MEDIA BBC.co.id, PALEMBANG — Narasi soal kasus pembacokan di kawasan Terminal Lemabang, Palembang, kini berubah tajam. Sosok berinisial DR yang sebelumnya disebut sebagai pelaku, justru membalikkan keadaan dengan klaim bahwa dirinya adalah korban pengeroyokan bersenjata.
Peristiwa yang terjadi pada Kamis (12/3/2026) pagi itu kini menyisakan dua versi yang bertolak belakang dan membuka pertanyaan serius soal siapa sebenarnya yang memulai kekerasan.
DR menegaskan, dirinya saat itu sedang menjalankan tugas pengamanan di Pasar Lemabang terkait agenda kunjungan anggota DPRD. Situasi disebutnya awalnya kondusif, sebelum mendadak berubah menjadi brutal.
“Dua orang datang mendekat, jarak hanya beberapa meter, lalu tiba-tiba langsung mengayunkan senjata tajam ke arah saya. Saya hanya bisa menangkis dan mundur,” ungkap DR.
Ia mengklaim serangan tidak berhenti di situ. Dari arah belakang, disebutnya muncul pelaku lain yang ikut menyerang, membuat situasi semakin tidak seimbang.
Dalam kondisi terdesak, DR mengaku mengambil benda apa pun di sekitarnya untuk bertahan hidup.
“Saya tidak tahu itu besi atau kayu, yang penting saya bisa bertahan. Itu murni untuk menyelamatkan diri,” tegasnya.
Pernyataan ini sekaligus menantang narasi yang lebih dulu beredar di sejumlah media online yang menyebut AS (35) sebagai korban pembacokan oleh DR.
DR bahkan menyebut klaim tersebut sebagai “alibi yang dipaksakan.”
“Kalau mereka bilang mau melerai, itu tidak masuk akal. Siapa yang melerai orang tidak dikenal yang membawa senjata tajam?” katanya dengan nada keras.
Di sisi lain, aparat kepolisian yang berada di lokasi juga mengakui adanya keributan bersenjata yang melibatkan beberapa orang.
Kepala Pos Polisi Pasar Lemabang, Agung, menyebut dirinya sempat menerima laporan warga yang panik dan berlarian meminta pertolongan. Saat tiba di lokasi, ia melihat sekelompok pria bersenjata tajam bergerak agresif.
“Ada empat orang, tiga membawa pedang. Mereka berteriak menantang. Situasinya sangat tegang,” ujarnya.
Agung mengaku sempat menghadang kelompok tersebut sebelum akhirnya mereka melarikan diri. Tim patroli kemudian dikerahkan untuk meredam situasi.
Meski kondisi telah kembali kondusif, kasus ini justru semakin rumit. Dua versi yang saling bertolak belakang kini mengemuka: apakah ini aksi pembacokan sepihak, atau justru bentrokan yang dipicu serangan lebih dulu?
Hingga kini, kepolisian masih mendalami kronologi sebenarnya, termasuk mengumpulkan keterangan saksi dan bukti di lapangan. Publik pun menunggu kejelasan siapa korban, dan siapa yang sebenarnya memulai kekerasan di pagi berdarah itu. (H Rizal).













