News  

Aktivis Senior Sumsel Soroti Krisis Intelektualitas Mahasiswa, Dorong Diskusi Rutin di Akar Rumput

Oplus_131072

MEDIA BBC.co.id PALEMBANG Aktivis senior Sumatera Selatan, Syafran Suprano yang akrab disapa Kuyung Sapran, menegaskan pentingnya budaya diskusi dan silaturahmi intelektual dalam pertemuannya bersama aktivis dan mahasiswa di Posko Koalisi Aktivis Rakyat Bawah, Minggu (29/03/2026).

Dalam forum yang berlangsung hangat tersebut, Kuyung Sapran menekankan bahwa silaturahmi tidak boleh sekadar menjadi ajang kumpul biasa, melainkan harus diisi dengan kegiatan yang mampu meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM), khususnya bagi kalangan mahasiswa dan calon aktivis.

“Silaturahmi itu harus terus dijalankan, tapi yang terpenting adalah isi dari pertemuan itu. Harus ada diskusi, tukar pendapat, tidak harus formal. Bagi seorang intelektual, diskusi itu adalah kemewahan,” tegasnya.

Ia juga mengkritik fenomena mahasiswa saat ini yang mulai menganggap diskusi sebagai sesuatu yang membosankan. Menurutnya, sikap tersebut menunjukkan rendahnya kesadaran intelektual.

“Kalau mahasiswa menganggap diskusi itu membosankan, maka dia belum bisa disebut memiliki tingkat intelektualitas yang baik. Diskusi adalah kemenangan hidup bagi seorang aktivis,” ujarnya lugas.

Lebih lanjut, Kuyung Sapran menyoroti perubahan signifikan antara mahasiswa masa kini dan masa lalu, terutama dari sisi akses informasi. Ia menilai kemudahan akses informasi saat ini belum dimanfaatkan secara optimal untuk pengembangan pemikiran kritis.

“Hari ini semua informasi ada di tangan mereka. Tinggal bagaimana kemauan untuk mengelaborasi itu menjadi pemikiran. Ini yang saya lihat mulai berkurang,” katanya.

Ia juga mengingatkan bahwa aksi demonstrasi saja tidak cukup tanpa dibarengi kajian dan analisis mendalam. Mahasiswa, menurutnya, harus mampu membangun argumen berbasis diskusi sebelum mengambil sikap.

“Jangan hanya baca berita lalu langsung demo tahan dulu, kaji, diskusikan, kalau setelah dikaji tetap tidak sepakat, itu baru sikap yang benar,” tegasnya.

Selain itu, ia menyoroti menurunnya empati sosial di kalangan mahasiswa yang dinilai mulai terjebak dalam pola pikir individualistik, Kondisi ini, kata dia, berpotensi melemahkan peran generasi muda sebagai calon pemimpin bangsa.

“Mahasiswa itu generasi elit ke depan. Kalau dari sekarang mereka tidak peduli dengan lingkungan sosialnya, bagaimana mereka mau bicara tentang kebangsaan?” ungkapnya.

Dalam kesempatan tersebut, ia juga mengajak mahasiswa untuk aktif membangun kebiasaan diskusi rutin lintas disiplin ilmu sebagai bekal saat terjun ke masyarakat.

“Jangan terpaku pada jurusan, di masyarakat itu persoalannya beragam, mahasiswa harus siap jadi tempat bertanya, minimal punya pengetahuan umum dan empati sosial,” tambahnya.

Sementara itu, Ketua Koalisi Aktivis Rakyat Bawah sekaligus tuan rumah, Yan Coga Raja Sriwijaya, menyatakan komitmennya untuk menjadikan posko tersebut sebagai ruang terbuka bagi pengembangan intelektualitas generasi muda.

“Kami siap memfasilitasi ruang diskusi rutin bagi mahasiswa dan aktivis, posko ini terbuka untuk siapa saja yang ingin belajar, bertukar pikiran, dan membangun kepedulian sosial,” ujarnya.

Yan Coga juga menegaskan bahwa pihaknya akan mendorong terbentuknya agenda diskusi berkelanjutan agar semangat yang muncul dalam pertemuan tersebut tidak berhenti sebagai wacana.

“Kuncinya ada di kemauan teman-teman mahasiswa sendiri, fasilitas bisa kami siapkan, tapi tanpa kemauan, semua itu tidak akan berarti,” katanya.

Pertemuan ini diharapkan menjadi titik awal kebangkitan budaya diskusi di kalangan mahasiswa Sumatera Selatan, sekaligus memperkuat peran mereka sebagai agen perubahan yang tidak hanya kritis, tetapi juga solutif dan berempati terhadap persoalan masyarakat.(H Rizal).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *