MEDIA BBC.co.id, Palembang — Transparansi jadi kata kunci dalam pertemuan antara Direktur Utama Perumda Tirta Musi, Teddy Andrian, dengan awak media di Graha Tirta Musi, Jumat (10/4/2026).
Alih-alih sekadar silaturahmi, forum ini berubah menjadi ajang “buka kartu” soal persoalan klasik air bersih di Palembang, dari pipa uzur hingga gangguan listrik yang kerap luput dari perhatian publik.
Di hadapan jurnalis, Teddy tak menutup-nutupi fakta bahwa infrastruktur lama masih menjadi biang kerok utama gangguan distribusi. Kebocoran pipa, seperti yang terjadi di Jalan Sudirman, disebutnya sebagai konsekuensi dari jaringan yang sudah berusia.
“Sebagian sudah kami perbaiki, tapi ada yang kembali bocor. Ini realitas di lapangan yang terus kami kejar,” ujarnya lugas.
Namun, persoalan tak berhenti di situ. Teddy mengungkap gangguan distribusi juga kerap dipicu faktor non-teknis, terutama kelistrikan di instalasi booster.
Kondisi ini dinilai ironis karena sering kali listrik di permukiman warga normal, sementara fasilitas distribusi air justru padam.
“Akibatnya suplai air ikut terganggu, meski di rumah warga listrik tidak ada masalah,” katanya.
Di balik berbagai kendala, Perumda Tirta Musi tetap memasang target tinggi: cakupan layanan 100 persen. Saat ini, layanan baru menjangkau sekitar 85 persen warga Palembang, menyisakan belasan persen yang belum teraliri air bersih.
Dalam perjanjian kinerja dengan Wali Kota, Teddy dituntut mempercepat perluasan layanan—terutama dalam 100 hari kerja awal. Namun, ambisi ini datang dengan konsekuensi besar: kebutuhan investasi hingga ratusan miliar rupiah.
“Kami tidak bisa bekerja sendiri. Kerja sama dengan pihak ketiga jadi opsi realistis untuk mengejar target ini,” tegasnya.
Satu hal yang menjadi sorotan tajam adalah kualitas layanan yang belum merata. Teddy mengakui masih ada wilayah yang hanya menikmati aliran air sekitar empat jam per hari.
Ia menegaskan, ekspansi pelanggan baru tidak boleh mengorbankan pelanggan lama.
“Jangan sampai jumlah pelanggan bertambah, tapi kualitas layanan turun. Target kami jelas: air harus mengalir 24 jam,” katanya.
Di sisi lain, persoalan klasik kembali mencuat: rendahnya kepatuhan pelanggan dalam membayar tagihan. Hal ini disebut berdampak langsung pada kemampuan operasional perusahaan.
Dengan sekitar 320 ribu sambungan pelanggan yang melayani 1,5 juta jiwa, potensi pendapatan sebenarnya besar. Namun, jika penagihan tidak optimal, target peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) bisa terhambat.
“Kami butuh dukungan semua pihak, termasuk media, untuk membangun kesadaran masyarakat,” ujar Teddy.
Pertemuan ini menegaskan pergeseran pendekatan Perumda Tirta Musi terhadap media, bukan hanya sebagai peliput, tetapi mitra strategis dalam menyampaikan kondisi riil ke publik.
Dengan tantangan yang kompleks, mulai dari infrastruktur tua, gangguan teknis, hingga disiplin pelanggan,perusahaan daerah ini tampaknya memilih jalur transparansi sebagai langkah awal membangun kepercayaan.
Langkah berikutnya akan diuji: seberapa cepat janji layanan 24 jam dan cakupan 100 persen benar-benar bisa dirasakan warga Palembang.( H Rizal).













