MEDIABBC.co.id, Palembang – Konsistensi komunitas sejarah di Palembang dalam memperingati Perang 5 Hari 5 Malam akhirnya berbuah perhatian serius dari pemerintah daerah. Peringatan yang digelar di Lawang Borotan, Palembang, Sabtu (3/1/2026), menandai pertama kalinya Pemerintah Kota Palembang terlibat langsung sejak kegiatan ini diinisiasi secara swadaya lima tahun lalu.

Ketua Pelaksana Kegiatan, Vebri Al Lintani, mengungkapkan bahwa peringatan Perang 5 Hari 5 Malam—yang terjadi pada 1 hingga 5 Januari 1947, selama ini digelar murni oleh komunitas tanpa dukungan anggaran pemerintah.
“Ini peringatan kelima yang kami adakan secara swadaya. Alhamdulillah, tahun ini menjadi istimewa karena Pemkot Palembang ikut berpartisipasi dan Pak Wali Kota hadir langsung,” ujarnya.
Menurut Vebri, dukungan pemerintah berupa fasilitas kegiatan menjadi dorongan moral bagi komunitas yang selama ini berjuang menjaga ingatan sejarah lokal agar tidak hilang ditelan zaman.
“Mudah-mudahan ke depan bisa dianggarkan secara resmi. Karena ini bukan sekadar acara, tapi upaya menyelamatkan sejarah kota Palembang,” katanya.
Vebri menyoroti minimnya pengetahuan generasi muda terhadap peristiwa besar yang terjadi tepat di awal tahun tersebut.
“Tanggal 1 Januari selama ini identik dengan malam tahun baru. Padahal, di tanggal itu Palembang pernah mengalami peristiwa besar perjuangan melawan penjajah. Banyak anak muda tidak mengetahuinya,” jelasnya.
Ia menilai, tanpa peran komunitas, sejarah Perang 5 Hari 5 Malam berpotensi terus terpinggirkan dari narasi sejarah nasional.

Wali Kota Palembang Drs. H. Ratu Dewa, M.Si. yang hadir dalam peringatan tersebut menyampaikan apresiasinya terhadap kegigihan komunitas sejarah.
“Kami hadir untuk menghargai perjuangan para pahlawan dan juga konsistensi komunitas yang terus menjaga sejarah ini,” kata Ratu Dewa.
Ia menegaskan pentingnya menjadikan peristiwa Perang 5 Hari 5 Malam sebagai bagian dari edukasi generasi muda, mulai dari tingkat PAUD hingga SMP.
“Perjuangan para pendahulu tidak hanya soal militer, tetapi juga menyangkut ekonomi, politik, sosial, dan perdagangan. Ini nilai besar yang harus diwariskan,” ujarnya.
Ratu Dewa menambahkan, antusiasme masyarakat dalam pawai kebangsaan yang digelar sebelumnya menunjukkan bahwa sejarah masih relevan dan diminati.
“Ke depan, kegiatan ini harus difasilitasi dan masuk kalender event resmi, termasuk penganggarannya. Negara dan pemerintah harus hadir,” tegasnya.
Dengan keterlibatan pemerintah, peringatan Perang 5 Hari 5 Malam kini bergerak dari inisiatif komunitas menuju agenda kota, sekaligus membuka peluang agar sejarah lokal Palembang mendapat pengakuan yang lebih luas di tingkat nasional.(H Rizal).












