MEDIABBC.co.id – BEKASI KOTA – Kemiskinan kota adalah masalah kompleks yang butuh solusi dari semua pihak. Prinsip ini dipegang teguh oleh Yayasan Humaniora Rumah Kemanusiaan, sebuah lembaga nirlaba yang telah berdedikasi selama puluhan tahun untuk membantu mereka yang membutuhkan.

Sejak berdiri pada tahun 1995, yayasan ini telah membuka warung kopi dan mie instan gratis sebagai bentuk kepedulian. Tujuannya sederhana, membantu siapa saja yang kelaparan, mulai dari musafir, sopir angkot, ojek online, hingga pemulung dan kuli bangunan.
“Orang lapar itu jangan hanya diceramahi. Disuruh ikhlas, disuruh sabar. Mereka wajib ditolong, diberi bantuan. Ini adalah tuntutan moral yang tak bisa ditolak,” tegas Eddie Karsito, pendiri Yayasan Humaniora Rumah Kemanusiaan.
Eddie Karsito, yang juga dikenal sebagai seniman dan penggiat budaya, ditemui saat melayani para pemulung yang sedang sarapan di warung gratisnya di Perumahan Kranggan Permai, Jatisampurna, Kota Bekasi.
Bukan Sekadar Sumbangan, Tapi Aksi Nyata
Menurut Eddie, respons terhadap penderitaan seharusnya diwujudkan dalam tindakan, bukan sekadar kata-kata. Ia menekankan bahwa nasihat untuk bersabar sering kali datang dari mereka yang tidak pernah merasakan lapar, sehingga nasihat itu menjadi tidak relevan.
Selain menyediakan makanan gratis, Yayasan Humaniora juga membina ratusan pemulung, termasuk janda-janda lanjut usia hingga 97 tahun. Mereka juga menyantuni kaum dhuafa, fakir miskin, serta puluhan anak yatim dan dhuafa non-panti.
Yayasan ini juga berperan aktif dalam membantu anak-anak pemulung untuk terus bersekolah, mulai dari memenuhi kebutuhan seragam, sepatu, hingga perlengkapan sekolah lainnya.
Menolak “Meminta-Minta” Sumbangan
Berbeda dari kebanyakan lembaga sosial, Yayasan Humaniora memiliki prinsip unik: tidak meminta-minta bantuan dari pihak manapun, termasuk pemerintah. Sumbangan yang disalurkan bukan hasil dari penyebaran proposal atau usaha pengumpulan dana lainnya.
“Apa yang kami bagikan adalah bantuan internal, dari para pengurus yayasan dan anggota Sanggar Humaniora. Kami tidak punya donatur tetap,” jelas Eddie. “Bantuan dari dermawan lain ada, tapi sifatnya sukarela, bukan kami minta.”
Eddie juga menyoroti maraknya institusi yang mengatasnamakan lembaga agama untuk menggalang dana secara masif, bahkan di media sosial. Sering kali, menurutnya, agama hanya menjadi “kemasan” tanpa menyentuh akar masalah kemanusiaan.
Sinergi Sosial dan Budaya
Yayasan Humaniora percaya pada simbiosis mutualisme antara kebajikan sosial dan kegiatan budaya. Upaya kesejahteraan sosial disinergikan dengan aktivitas seni, tradisi, dan ekspresi kemanusiaan lainnya.
“Kebajikan sosial dan kegiatan seni budaya saling berkontribusi pada peningkatan kualitas hidup dan kohesi sosial. Mudah-mudahan ini bisa menciptakan siklus positif bagi masyarakat,” tutup Eddie Karsito.
(Kelana Peterson)













