MEDIABBC.co.id ,Depok – Setelah proses kelahiran hingga kematian mahluk bernama manusia, (tentunya setelah menjalani ritual keagamaan), maka kehadiran profesi perawat dan fotografer, biasanya kerap menemani proses tersebut.
Mungkin itu (bisa saja) memberi arti bahwa kedua profesi tersebut dirasakan “cukup penting” pada kelahiran seorang manusia.
Yang perawat membantu proses persalinan, dan yang menjadi fotografer “bertugas” memotret manusia cilik imut saat tangis pertamanya, sampai mendokumentasikan pose ayah, ibu, dan si bayi.
Bagi Hendra Lesmana yang merupakan salah seorang fotografer senior, menilai bahwa dunia fotografi memang dirasa perlu bagi mereka yang merhargai arti sebuah kenangan. Atau arti sebuah sejarah, bahkan arti berkehidupan dengan profesi yang dijalaninya sebagai seorang fotografer..
“Banyak aspek yang terhubung ketika kita bicara soal fotografi. Tidak cuma merekam seseorang lahir ke dunia, kemudian menikah, lanjut saat dirinya sibuk dengan profesinya masing-masing, bahkan ketika dirinya “dipanggil Tuhan”. Bahkan lebih dari itu, ternyata fotografipun mampu membuka lahan bisnis yang cukup menjanjikan, terutama diera digitalisasi seperti sekarang ini,” kata Hendra.
Juga tidak sedikit patron bisnis seperti toko kamera, percetakan, hingga penyewaan studio foto yang dianggap Hendra mampu menyerap sektor tenaga kerja. Apalagi kini banyak sekolah kejuruan yang fokus dengan membuka jurusan Desain Komunikasi Visual (DKV).
“Dan saya melihat cukup lebar peluang dibisnis itu, tapi sayangnya sebagai fotografer yang bermukim di Depok, Jawa Barat, saya tidak melihat keseriusan banyak pihak untuk menjadikan fotografi sebagai bidang yang jika dipadu dari sisi seni dan ekonomi, akan memberikan dampak kentungan yang menjanjikan,” tambah fotografer yang berencana akan memberikan pelatihan fotografi kepada Narapidana ini.
Sementara dari sisi moralitas, Hendra juga menyoroti masih banyaknya video viral yang merekam adegan kurang beretika, dan salah satu penyebabnya adalah karena kurangnya dasar atas pemahaman bagaimana seseorang harus merekam gambar, baik dari sisi fotografi keilmuan, maupun etika berfotografi atau videografi.
“Untuk mewujudkannya, sebenarnya gampang, misal saja dalam beberapa event seperti Car Free Day, bisa kita kumpulkan sejumlah fotografer, dan memang saya berencana mengajak para penggemar fotografi di Depok, untuk berbagi ilmu, sambil nanti menggelar Pameran foto di acara CFD.
Pokoknya jika Pecinta Fotografi Depok sudah berkumpul, pasti akan muncul ide-ide, misalnya kita bisa memberikan pelatihan ekstrakulikuler ke pada siswa-siwi SMP dan SMA, yang nanti akan dipamerkan pada saat berbagai acara,” tambahnya.
Sehingga sudah saatnya konsep kebudayaan pun sudah selayaknya menjadikan fotografi sebagai salah satu elemen dalam pengembangan masyarakat, juga terbukti, sebagai catatan sejarah, jika Frans Soemarta Mendur adalah salah satu dari para fotografer yang mengabadikan detik-detik proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia 17 Agustus 1945.
Bersama saudara kandungnya, Alex Mendur, mereka turut mengabadikan peristiwa bersejarah ini.(Ril)













