MEDIABBC.co.id, JAKARTA – Di tengah budaya serba cepat yang dipacu media sosial dan tuntutan produktivitas tanpa henti, Edi Susilo si Penikmat Kopi Hitam dengan Sedikit Gula, mengingatkan publik akan satu hal yang kian langka: keberanian untuk hidup pelan. Minggu,(11/01/2026).
Menurutnya, tekanan untuk selalu “bergerak cepat” kerap membuat manusia modern kehilangan makna proses. “Kita sering merasa gagal hanya karena membandingkan hidup sendiri dengan potongan hidup orang lain di Instagram atau TikTok. Padahal hidup bukan lomba lari 100 meter,” ujarnya dalam refleksi akhir pekan yang ia bagikan.
Ia mengibaratkan hidup seperti menyeduh kopi tubruk. Perlu waktu agar ampas turun dan rasa muncul dengan utuh. “Kalau dipaksa cepat, yang tersisa hanya pahit,” kata Edi.
Edi menekankan bahwa hidup tergesa-gesa bukan sekadar persoalan mental, tetapi juga biologis. Dalam dunia sains, tekanan berlebihan memicu produksi hormon kortisol. Jika berlangsung lama, kondisi ini justru menurunkan fungsi kognitif dan kesehatan tubuh.
“Sebaliknya, saat kita melambat, tubuh masuk ke fase rest and digest. Di fase ini, tubuh melakukan pemulihan alami,” jelasnya.
Ia menyinggung proses autofagi, mekanisme biologis di mana sel membersihkan dan memperbarui dirinya. Proses ini bekerja optimal justru ketika manusia memberi jeda—seperti saat istirahat atau berpuasa. “Secara ilmiah, orang yang tahu kapan berhenti sejenak justru sedang memperpanjang usia selnya,” ujarnya.
Edi juga menarik benang merah dari kearifan lokal. Ia mencontohkan kisah Bima atau Werkudara dalam pencarian Banyu Perwitasari. Sang ksatria tidak menemukan pencerahan lewat kecepatan, melainkan lewat kesediaan untuk menyelam, hening, dan menunggu.
“Bima tidak sedang balapan. Ia berhenti untuk memahami jati diri,” katanya.
Dari alam, ia mengangkat metamorfosis ulat menjadi kupu-kupu. Di dalam kepompong, terjadi penghancuran dan penyusunan ulang sel secara total. “Kalau ulat memaksa keluar sebelum waktunya, ia tidak akan menjadi kupu-kupu. Ia gagal,” tegas Edi.
Dalam konteks kebangsaan, Edi menilai budaya jeda selaras dengan nilai Indonesia. Kemerdekaan, katanya, lahir dari proses panjang, bukan hasil instan. Prinsip berdikari yang digaungkan Bung Karno membutuhkan fondasi, bukan kecepatan semata.
“Melambat adalah bentuk keadilan terhadap diri sendiri. Memberi tubuh hak untuk pulih dan jiwa ruang untuk tumbuh,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan simbol padi dalam lambang negara. Padi yang berisi justru merunduk, dan membutuhkan waktu panjang di lumpur sebelum menjadi sumber kehidupan.
Edi mengkritik mentalitas serba cepat yang memaksa hasil sebelum waktunya. Ia mengibaratkan pencapaian hidup seperti buah yang dipaksa matang dengan karbit. “Warnanya cantik, tapi rasanya hambar,” katanya.
Menurutnya, kesabaran adalah “biokatalisator alami” yang membentuk karakter manusia secara utuh. “Berjalan pelan bukan berarti berhenti. Seperti mobil di gigi rendah saat menanjak lambat, tapi kuat,” ujarnya.
Menutup refleksinya, Edi mengajak masyarakat untuk tidak merasa tertinggal hanya karena standar sukses orang lain. “Kalau tetangga sudah beli mobil baru sementara kita masih merawat cabai di teras, itu bukan kegagalan. Siapa tahu cabai kita lebih pedas,” katanya.
Ia mengingatkan bahwa waktu tidak pernah salah hitung. “Gusti paring dalan kanggo wong sing gelem sabar. Semesta punya caranya sendiri meracik kebahagiaan setiap orang.”
Di akhir pekan ini, Edi Susilo mengajak publik berhenti sejenak, bernapas, dan mengakui bahwa bahagia bukan hadiah bagi yang paling cepat, melainkan hak bagi mereka yang setia pada proses.(H Rizal).










