MediaBbc.co.id., Palembang- Gerakan Pemuda Mahasiswa Sumatera Selatan (GAASS) menggelar aksi damai di halaman Kantor Gubernur Sumatera Selatan, Rabu (21/5/2025), dengan membawa pesan kuat melawan korupsi birokrasi. Aksi ini diwarnai dengan pelepasan tikus secara simbolis, sebagai bentuk kritik terhadap dugaan praktik KKN (Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme) di beberapa dinas pemerintahan provinsi.
Ketua Umum GAASS, Andi Leo, menyampaikan bahwa aksi ini merupakan bentuk kado peringatan Hari Ulang Tahun ke-79 Provinsi Sumatera Selatan, dengan harapan agar Sumsel benar-benar bersih dari para “tikus kantor”.
“Pelepasan tikus ini adalah simbol harapan kami agar di usia ke-79 ini, Sumsel bisa bebas dari tikus-tikus kantor yakni para pelaku korupsi yang merugikan rakyat,” tegas Andi Leo dalam orasinya.
Tuntutan GAASS: Perbaikan Birokrasi & Evaluasi Dinas Bermasalah
Dalam aksi tersebut, GAASS juga menyampaikan beberapa tuntutan utama kepada Gubernur Sumsel, antara lain:
Evaluasi menyeluruh terhadap dinas-dinas yang terindikasi melakukan KKN
Reformasi birokrasi internal secara transparan dan akuntabel
Peningkatan pengawasan terhadap penggunaan APBD dan proyek publik
Pemberian sanksi tegas terhadap pejabat yang terlibat dalam penyalahgunaan wewenang.
Simbol Tikus: Sindiran Kuat untuk Pejabat Korup
Aksi pelepasan tikus menjadi sorotan utama dalam demonstrasi tersebut. Tikus dipilih sebagai simbol karena dianggap merepresentasikan oknum pejabat rakus, manipulatif, dan merusak dari dalam sistem.
“Kami tidak akan diam. Selama masih ada tikus di dalam kantor pemerintahan, kami akan terus turun ke jalan,” ujar kordinator aksi gusti hartono.
Harapan untuk Sumsel yang Bersih dan Berintegritas
GAASS menyatakan akan terus mengawal jalannya pemerintahan provinsi, serta membuka ruang dialog dengan berbagai pihak untuk memperkuat tata kelola pemerintahan yang bersih, efektif, dan berpihak pada rakyat.
“HUT Sumsel ke-79 dengan catatan prestasi buruk yaitu menjadi provinsi termiskin peringkat 16 nasional dan tingkat pendidikan di bawah rata-rata nasional,” tutup Gusti Hartono.













