Palembang Ubah Sampah Jadi Energi, Hendri Zikwan: Ratu Dewa Berani Keluar dari Zona Nyaman

MEDIABBC.co.id, Palembang – Tumpukan sampah yang selama ini menjadi simbol persoalan klasik perkotaan kini didorong naik kelas. Di tangan Wali Kota Ratu Dewa, isu sampah tak lagi berhenti pada urusan kebersihan, tetapi diarahkan menjadi proyek strategis energi melalui Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTsa).

Langkah ini mendapat sorotan tajam sekaligus apresiasi dari Ketua DPD Gempur, Hendri Zikwan. Ia menilai kebijakan tersebut bukan sekadar proyek infrastruktur, melainkan lompatan cara berpikir pemerintah daerah.

“Ini bukan proyek biasa. Ini perubahan paradigma. Sampah tidak lagi diposisikan sebagai beban, tapi sebagai sumber daya yang punya nilai ekonomi,” tegas Hendri, Selasa (24/2/2026).

Menurut Hendri, pengembangan PLTsa menunjukkan keseriusan Pemkot Palembang menjawab dua persoalan sekaligus: krisis pengelolaan sampah dan kebutuhan energi yang terus meningkat.

Volume sampah kota yang kian menekan kapasitas Tempat Pembuangan Akhir (TPA) dinilai tak bisa lagi diselesaikan dengan pola lama. Pendekatan tambal sulam hanya memperpanjang masalah tanpa memberi solusi jangka panjang.

“Banyak daerah masih sibuk memindahkan masalah dari satu titik ke titik lain. Palembang mencoba menyelesaikannya dari hulu. Kalau konsisten, ini bisa jadi model nasional,” ujar Hendri.

PLTsa digadang-gadang mampu mengurangi beban TPA secara signifikan sekaligus menghasilkan listrik dari limbah rumah tangga. Skema ini bukan hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru, termasuk investasi dan penciptaan lapangan kerja berbasis teknologi.

Meski demikian, Hendri mengingatkan bahwa proyek berbasis teknologi lingkungan kerap menghadapi tantangan nonteknis. Ia menekankan pentingnya transparansi, komunikasi publik, dan pengawasan agar proyek tidak tersendat di tengah jalan.

“Seringkali yang menggagalkan bukan teknologinya, tapi lemahnya komunikasi dan komitmen. Pemerintah harus terbuka. Masyarakat juga perlu diedukasi agar tidak terjebak pada stigma lama,” katanya.

Ia menilai, keberanian politik Ratu Dewa dalam mendorong transformasi pengelolaan sampah patut diapresiasi.

Di tengah tekanan fiskal daerah dan skeptisisme publik terhadap proyek besar, keputusan mengangkat isu sampah menjadi agenda strategis dinilai sebagai langkah yang tidak populis, tetapi visioner.

Bagi kota yang terus berkembang seperti Palembang, persoalan sampah adalah konsekuensi pertumbuhan. Namun di balik tantangan itu, tersimpan peluang besar jika dikelola dengan pendekatan inovatif.

Kebijakan ini menjadi sinyal bahwa pemerintah daerah mulai melihat krisis lingkungan bukan semata ancaman, melainkan ruang transformasi. Jika PLTsa berjalan efektif, Palembang berpotensi menjadi salah satu kota pelopor konversi sampah menjadi energi di Indonesia.

“Ini momentum. Masalah menahun bisa berubah menjadi kekuatan, asal ada keberanian dan visi jangka panjang,” tutup Hendri.

Di bawah kepemimpinan Ratu Dewa, narasi sampah di Palembang perlahan berubah. Dari cerita lama tentang bau dan kumuh, menjadi kisah baru tentang energi dan masa depan.(H Rizal).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *