Respons Cepat Longsor Bandung Barat: Evaluasi Tata Ruang hingga Pencarian 23 Marinir

MEDIABBC.co.idBANDUNG BARAT – Menteri Lingkungan Hidup (LH)/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (BPLH), Hanif Faisol Nurofiq, menegaskan bahwa pemulihan lingkungan dan perbaikan tata ruang lanskap harus menjadi prioritas utama pasca-bencana tanah longsor di Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat.

​Menteri Hanif menekankan bahwa penanganan bencana tidak boleh hanya berhenti pada langkah darurat, melainkan harus menyentuh akar permasalahan melalui kajian ilmiah yang komprehensif.

​”Penanganan bencana tidak bisa dilakukan secara parsial. Kami melibatkan para ahli untuk mengkaji penyebab utama longsor ini, sekaligus merumuskan langkah tindak lanjut terkait tata ruang agar kejadian serupa tidak terulang,” ujar Hanif dalam keterangan resminya, Senin (26/1/2026).

​Kerapuhan Struktur Lahan Jadi Sorotan

​Berdasarkan data BMKG, wilayah Cisarua mengalami curah hujan rata-rata 68 mm per hari selama empat hari berturut-turut sebelum bencana terjadi. Meski menjadi pemicu, Hanif menilai angka tersebut secara klimatologis tidak tergolong ekstrem.

​”Angka ini tidak terlalu besar dibandingkan wilayah lain, seperti di Sumatera. Hal ini mengindikasikan adanya kerapuhan pada struktur tutupan lahan di Bandung Barat yang perlu segera diperbaiki,” jelasnya saat meninjau lokasi pada Minggu (25/1).

​KLH/BPLH akan segera menerjunkan tim lintas disiplin ilmu untuk mengevaluasi perubahan fungsi lahan yang masif di kawasan tersebut guna memperketat kebijakan penataan ruang di masa depan.

​Update Evakuasi: 23 Anggota Marinir Tertimbun

​Di sisi lain, duka mendalam menyelimuti korps TNI. Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana Muhammad Ali mengonfirmasi bahwa sebanyak 23 anggota Marinir tertimbun material longsor saat berada di lokasi kejadian.

​Hingga Senin siang, tim evakuasi baru berhasil menemukan empat personel dalam kondisi meninggal dunia, sementara 19 lainnya masih dalam proses pencarian.

​”Saat ini baru ditemukan empat personel dalam kondisi meninggal dunia. Sisanya masih dalam upaya pencarian terus-menerus,” kata Laksamana Muhammad Ali usai rapat kerja bersama Komisi I DPR RI di Senayan, Jakarta.

​Kendala Alat Berat dan Akses

​Proses evakuasi di lapangan menghadapi tantangan berat. Laksamana Ali menyebutkan bahwa alat berat belum dapat menembus titik nol bencana akibat akses jalan yang sempit dan faktor cuaca yang tidak menentu.

​”Alat berat belum bisa masuk karena kondisi jalan kecil dan cuaca. Namun, kami memaksimalkan pencarian menggunakan teknologi drone, sensor thermal, hingga anjing pelacak,” pungkasnya.

(Jack)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *