MEDIABBC.co.id – Palembang – Dinamika menjelang Musyawarah Wilayah (Muswil) Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS) Sumatera Selatan tahun 2025 semakin memanas. Selain nama-nama yang mewakili generasi muda dan kesinambungan pengurus, kini muncul tiga tokoh senior yang telah lama absen dari gelanggang kompetisi, namun menyatakan siap “turun gunung” untuk memperebutkan posisi Ketua Badan Pengurus Wilayah (BPW) KKSS Sumsel periode 2025-2030.
Sebelumnya, telah beredar nama Dr. Sulaiman Hem, MM (poros generasi muda) dan Herlan Ashuddin, SE (unsur kesinambungan pengurus). Tiga tokoh senior yang kini menyatakan maju adalah H. Ahmat Tahir, S.Ag., S.H.; Ir. Agung Rahmadi; dan Ir. Suparman Romans, MS.

Saat dikonfirmasi, ketiga tokoh ini secara terpisah membenarkan niat mereka untuk maju dalam kontestasi kepemimpinan KKSS Sumsel.senin (27-10-25 ).
Panggilan Nurani untuk Kembalikan Marwah Organisasi
Ahmat Tahir menegaskan bahwa pengambilan formulir pencalonan adalah “semata-mata panggilan nurani” demi mengembalikan kejayaan KKSS Sumsel seperti dekade sebelumnya.
“Jika hanya pertimbangan komersial serta ambisi mengejar kedudukan, saya cukup menekuni bisnis dan profesi saya. Namun, ada sesuatu yang mengganjal, yakni ingin mengembalikan marwah dan kehormatan organisasi KKSS agar mampu eksis dan sejajar dengan paguyuban Nusantara lainnya melalui program nyata, bukan sekadar organisasi papan nama,” ujar Ahmat Tahir. Menurutnya, ini adalah pekerjaan rumah bagi siapapun yang memimpin KKSS Sumsel lima tahun ke depan.
Merindukan Masa Jaya dan Kritik Organisasi
Senada dengan Ahmat Tahir, Ir. Agung Rahmadi menyatakan tekadnya untuk mengembalikan KKSS Sumsel ke masa-masa kejayaannya 20-30 tahun lalu, di mana organisasi selalu penuh dengan aktivitas sosial, budaya, olahraga, dan seni.
“Sejak era setelah kepemimpinan almarhum H. Andi Ahmad Ismail, eksistensi organisasi KKSS di Sumsel cenderung menurun, seolah kehilangan orientasi visi dan misi sebagai wadah berhimpun perantau Sulawesi Selatan,” kritik Agung Rahmadi.
Ia mengaku telah menyaksikan selama 15 tahun, dengan rasa khawatir, bahwa grafik aktivitas dan program KKSS Sumsel cenderung menurun. “Program strategis dan amanah Muswil tidak terlaksana dengan baik, bahkan terkesan roda organisasi dijalankan secara one man show. Kondisi inilah yang mendorong saya untuk kembali ‘turun gunung’,” tegasnya.

Reformasi Organisasi untuk Visi Masa Depan
Sementara itu, Ir. Suparman Romans, MS, yang selama ini tidak aktif dalam aktivitas organisasi, menilai fenomena “turun gunung” para senior adalah dampak dari hukum sebab-akibat.
“Saya harus jujur mengakui bahwa 15 tahun terakhir, KKSS Sumatera Selatan sulit mensejajarkan diri dengan organisasi paguyuban lainnya, baik dalam tata kelola organisasi, konsolidasi, apalagi program kerja,” kata Suparman Romans.
Ia menilai bahwa ini adalah “kelemahan kolektif” yang disebabkan oleh pembiaran terhadap sistem kepemimpinan yang diterapkan selama ini. “Organisasi yang sehat adalah kerja kolektif kolegial, bukan individualistik. Jika Ketua tidak memiliki inovasi, barisan di belakangnya otomatis ikut mandek,” tambahnya, seraya menyayangkan potensi SDM KKSS yang besar namun mengalami mis-manajemen sehingga terjadi stagnasi.
Visi dan misinya dalam pencalonan diri adalah melakukan reformasi organisasi untuk menuju masa depan KKSS yang lebih visioner, berdaya saing, dan berdaya guna bagi anggota dan masyarakat. Ia juga bertekad mensejajarkan KKSS sebagai organisasi yang mandiri dan menciptakan kader muda berkarakter entrepreneurship.
Dinamika kontestasi kepemimpinan KKSS Sumatera Selatan ini dipastikan akan menemukan jawabannya pada pelaksanaan Muswil mendatang.
(Jack-red)













