MEDIABBC.co.id, PALEMBANG – Duka mendalam menyelimuti Kota Palembang atas wafatnya tokoh masyarakat dan pengusaha besar Sumatra Selatan, Kemas Haji Abdul Halim Ali atau Haji Alim, Jumat (23/1/2026). Ribuan pelayat memadati Masjid Agung Palembang untuk mengantar almarhum ke peristirahatan terakhirnya.
Wali Kota Palembang Drs. H. Ratu Dewa, M.Si. menyampaikan bela sungkawa mendalam atas kepergian sosok yang disebutnya sebagai figur sentral dalam pembangunan sosial dan keagamaan di Palembang dan Sumatra Selatan.
“Kami sangat berduka. Almarhum Haji Alim adalah sosok yang punya kepedulian luar biasa terhadap masyarakat, khususnya dalam kegiatan sosial dan keagamaan. Kontribusinya nyata dan dirasakan langsung oleh warga Palembang,” ujar Ratu Dewa di sela prosesi Salat Jenazah.
Menurut Ratu Dewa, Haji Alim bukan hanya dikenal sebagai pengusaha sukses, tetapi juga tokoh dermawan yang konsisten membantu masyarakat kecil tanpa banyak sorotan.
“Beliau orang yang ramah, rendah hati, dan selalu menyapa siapa pun. Pemerintah Kota Palembang kehilangan salah satu putra terbaiknya,” tambahnya.
Jenazah almarhum tiba di Masjid Agung Palembang sekitar pukul 10.50 WIB dan langsung disambut lautan pelayat yang telah menunggu sejak pagi. Setelah Salat Jumat, Salat Jenazah dilaksanakan dengan khidmat dan diimami oleh Ustadz Tarmizi Muhaimin, S.Ag., Al-Hafiz.
Putra almarhum, Kemas Umar Halim, mengatakan jenazah kemudian diberangkatkan menuju pemakaman keluarga di Jalan Dr. M. Isa, tepat di belakang kediaman pribadi almarhum.
Sejumlah pejabat daerah, tokoh masyarakat, ulama, hingga pengusaha tampak hadir memberikan penghormatan terakhir.
Haji Alim wafat pada usia 88 tahun di RSUD Siti Fatimah, Palembang, Kamis (22/1/2026) pukul 14.30 WIB. Semasa hidupnya, ia dikenal luas sebagai pengusaha yang mengelola sektor perkebunan sawit dan karet di Musi Banyuasin melalui PT Sentosa Mulia Bahagia (SMB) serta sektor pertambangan batu bara melalui PT Uci Jaya.
Di luar dunia usaha, nama Haji Alim lekat dengan kegiatan sosial. Setiap menjelang Ramadan dan Idulfitri, ia rutin menyalurkan bantuan sembako kepada ribuan anak yatim dan warga kurang mampu.
Kediamannya juga kerap menjadi tempat singgah tokoh nasional, termasuk Prabowo Subianto pada 2014 dan Presiden Joko Widodo pada 2018, menegaskan posisinya sebagai tokoh berpengaruh di Sumatra Selatan.
Di penghujung hidupnya, Haji Alim menghadapi ujian berat. Sejak 10 Maret 2025, ia menjalani penahanan di Rutan Pakjo terkait perkara lahan proyek Tol Betung–Tempino.
Kondisi kesehatannya terus menurun hingga harus menjalani persidangan di atas ranjang medis dengan bantuan oksigen pada Desember 2025, sebelum akhirnya dirawat intensif hingga wafat.
Meski diwarnai polemik hukum di akhir hayatnya, kepergian Haji Alim tetap meninggalkan duka mendalam.
Bagi banyak warga Sumatra Selatan, ia dikenang sebagai tokoh pembangunan, dermawan, dan ikon sosial yang jejak pengabdiannya sulit tergantikan.(HRizal).













