MEDIA BBC.co.id, PALEMBANG – Cabang olahraga bela diri modern asal Prancis, Savate, resmi membentuk kepengurusan di Kota Palembang. Langkah ini menjadi sinyal kuat bahwa Savate siap menjadi kekuatan baru dalam dunia olahraga Sumatera Selatan—dan Indonesia.
Pertemuan pengurus Savate Kota Palembang dengan jajaran Provinsi digelar pada Kamis (16/10/2025) di Gracias Resto & Café, menghadirkan sejumlah tokoh penting seperti:
1. Dr. Amir, Ketua Umum Savate Provinsi Sumsel
2.H. Aan Rizalni Kurniawan, S.H., M.H., Ketua Savate Kota Palembang.
3. H. Yopie Bharata, S.H., Wakil Ketua Umum Savate Palembang.
4. Andre Macan, S.H., M.H., CHRM., C.MSP., Sekretaris Jenderal Savate Indonesia Palembang.
5. Serta seluruh jajaran pengurus Cabang Savate Kota Palembang.
Dalam sambutannya, Dr. Amir menegaskan, Savate bukan sekadar olahraga baru, tapi peluang besar bagi atlet muda Palembang untuk menembus kancah nasional hingga internasional.
“Savate ini simpel, elegan, dan kompetitif. Tidak perlu waktu bertahun-tahun untuk bisa ikut bertanding. Atlet cukup siap fisik dan teknik, langsung bisa terjun ke arena,” tegasnya.
Savate telah terdaftar resmi di KONI Pusat sejak 2025 dan masuk Indonesia sejak 2008. Meski belum sepopuler karate atau taekwondo, Savate dinilai punya potensi berkembang cepat karena minim batasan—dan lebih terbuka bagi semua kalangan.
Tak tanggung-tanggung, agenda internasional Savate sudah di depan mata. Tahun 2026 mendatang, Indonesia berpeluang mengirim atlet ke Kejuaraan Savate di Nepal (April) dan Prancis (Agustus).
“Kota Palembang harus jadi gudangnya atlet Savate. Kalau serius, kita bisa orbitkan anak-anak muda ke panggung dunia,” ujar Dr. Amir.
Tiga titik latihan Savate sudah tersedia di Kota Palembang, yakni:
1.Warrior Gym (Sekip)
2. Duta Print
3. Dan satu lokasi tambahan yang siap bermitra dengan komunitas lokal
Pelatihan akan dikawal oleh pelatih bersertifikat, dan untuk sementara, wasit dan juri akan didatangkan langsung dari Jakarta hingga SDM lokal siap dilatih.
Ketuaa Savate Kota Palembang, H. Aan Rizalni Kurniawan, menyampaikan komitmen penuh untuk mendukung program pusat dan provinsi. Namun ia juga mengingatkan pentingnya dukungan konkrit, termasuk dalam hal pendanaan.
“Kami siap jadi pionir, tapi tentu butuh arahan dan support dari provinsi. Termasuk anggaran. Kita mau gebrak, tapi jangan hanya modal semangat,” tegasnya.
Aan juga menyarankan agar Palembang menggelar exhibition (ekshibisi) terlebih dahulu sebelum Kejuaraan Daerah digelar—agar masyarakat mengenal lebih dulu apa itu Savate.
Pengurus Savate Sumsel menegaskan bahwa seluruh aktivitas yang mengatasnamakan Savate harus melalui jalur resmi. Tidak ada ruang untuk dualisme organisasi.
“Semua pelatihan, penggunaan brand, sampai penyelenggaraan event harus izin ke pengurus cabang resmi. Kita ingin satu komando, tidak seperti olahraga lain yang kerap pecah dua,” tegas Dr. Amir.
Dengan infrastruktur yang mulai terbentuk dan kepengurusan yang solid, Savate kini punya pijakan kuat untuk berkembang. Kota Palembang diproyeksikan sebagai pusat pertumbuhan Savate di Indonesia, dengan mimpi besar: mengirim atlet ke panggung dunia.
Savate adalah seni bela diri modern asal Prancis yang mengandalkan teknik pukulan dan tendangan, tanpa penggunaan siku atau lutut. Ciri khasnya: memakai sepatu khusus dan bisa langsung bertanding tanpa proses sabuk bertingkat seperti bela diri konvensional.(H Rizal).













