MEDIABBC.Co.id, SEKAYU, MUBA — Malam pembukaan Pekan Paralimpik Provinsi (Peparprov) V Sumatera Selatan di Stable Horse Sekayu, Sabtu (1/11/2025), berubah menjadi momen penuh makna. Ribuan pasang mata terpaku ketika seorang perempuan muda berhijab membawa obor ke panggung utama.
Dialah Tasya Permata Sari (21), atlet para bulu tangkis asal Musi Banyuasin — simbol semangat tanpa batas dari kalangan disabilitas.
“Senang dan bangga sekali dipercaya membawa obor. Apalagi orang tua saya hadir langsung. Ini momen yang tidak akan saya lupakan,” ujar Tasya dengan suara bergetar usai upacara pembukaan.
Tasya lahir di Ngulak, Musi Banyuasin, 2 Oktober 2004, sebagai anak bungsu dari empat bersaudara. Hidup sederhana tak menghalangi tekadnya untuk berjuang. Namun di usia remaja, ia sempat terpuruk karena kondisi disabilitas yang membuatnya kehilangan rasa percaya diri.
“Saya dulu minder dan sempat tidak mau melanjutkan sekolah setelah SMP,” kenangnya.
Titik balik datang saat Tasya bergabung dengan Sentra Budi Perkasa Palembang, tempat rehabilitasi sosial bagi penyandang disabilitas. Di sana, ia belajar menjahit — namun raket bulu tangkis yang sering ia pegang di waktu senggang justru membuka jalan baru.
Bakatnya terpantau pelatih NPCI Sumatera Selatan, yang kemudian menawarinya latihan serius. Tahun 2019, Tasya untuk pertama kalinya turun di kejuaraan provinsi, meski harus pulang tanpa medali.
“Waktu itu pelatih saya, Pak Tomo, bilang jangan menyerah. Dari situ saya mulai latihan sungguh-sungguh,” katanya.
Kerja keras itu berbuah manis. Tasya meraih medali emas di Peparnas Papua 2021, lalu mengulang prestasi yang sama di Peparnas Solo 2024.
Kini, Tasya bukan sekadar atlet. Ia menjadi inspirasi bagi banyak penyandang disabilitas di Sumatera Selatan. Terpilihnya ia sebagai pembawa obor Peparprov V adalah bentuk penghargaan atas dedikasi dan semangat juangnya.

Ketua NPCI Sumatera Selatan, Hendri Cahyono, menyebut Tasya sebagai representasi generasi baru atlet disabilitas yang berani bermimpi besar.
“Tasya bukan hanya juara di lapangan, tapi juga contoh nyata bahwa keterbatasan tidak menghalangi prestasi,” kata Hendri.
Sementara itu, Bupati Musi Banyuasin Apriyadi Mahmud turut mengapresiasi peran Tasya yang mengharumkan nama daerah di level nasional.
“Kami bangga dengan Tasya. Ia menunjukkan bahwa dari desa kecil pun bisa lahir juara besar,” ujarnya.
Perempuan yang juga hobi melukis dan mendesain busana itu kini menatap target berikutnya: bergabung ke Pelatnas dan membawa nama Indonesia di ajang internasional.
“Tasya ingin masuk Pelatnas dan mengibarkan Merah Putih di luar negeri,” ucapnya penuh tekad.
Kepada sesama penyandang disabilitas, Tasya menyampaikan pesan yang menembus batas perbedaan:
“Tetap semangat, jangan malu, dan terus berjuang. Kalau ada kemauan, pasti ada jalan.”
Peparprov Sumsel V bukan hanya ajang olahraga, tapi juga panggung pembuktian bahwa semangat juang tidak mengenal batas fisik. Dan malam itu, obor di tangan Tasya bukan sekadar simbol pertandingan — melainkan api perjuangan dari Ngulak yang menyala hingga ke panggung nasional.
Dari desa kecil di Musi Banyuasin, Tasya Permata Sari membuktikan:
Keterbatasan bukan akhir, tapi awal dari perjalanan luar biasa menuju Indonesia yang inklusif.(H Rizal).













