MEDIABBC.co.id, Jakarta — Ketua Umum Forum Ulama Santri Indonesia (FUSI), Gus Syaifuddin, menegaskan bahwa bulan suci Ramadan bukan sekadar momentum peningkatan ibadah ritual, tetapi juga saat krusial untuk memperkuat solidaritas sosial dan mempererat persaudaraan di tengah keberagaman masyarakat Indonesia.
Menurut Gus Syaifuddin, Ramadan menghadirkan ruang spiritual sekaligus sosial yang begitu kuat. Ibadah puasa, salat tarawih, tadarus Al-Qur’an, hingga i’tikaf di masjid menjadi bagian dari penyucian diri. Namun, lebih dari itu, nilai-nilai kepedulian sosial seperti zakat, infak, dan sedekah harus semakin ditingkatkan agar manfaat Ramadan dapat dirasakan secara luas.
“Ramadan adalah momen menyucikan hati dan mempererat ukhuwah. Di bulan ini, kita diajak memperkecil jurang sosial dan menebar empati kepada sesama,” ujar Gus Syaifuddin dalam keterangannya.
Ia menekankan bahwa tradisi berbagi takjil, santunan kepada anak yatim, hingga bantuan bagi kaum dhuafa merupakan wujud nyata dari ajaran Islam yang menyeimbangkan hubungan dengan Allah (hablum minallah) dan hubungan antarmanusia (hablum minannas).
Dalam konteks kehidupan bangsa yang majemuk, Ramadan juga menjadi momentum strategis untuk merawat harmoni sosial. Gus Syaifuddin menyebut bulan suci ini sebagai “madrasah kehidupan” yang mengajarkan kesabaran, pengendalian diri, dan semangat kebersamaan.
“Ramadan mengajarkan bahwa ibadah tidak berhenti pada dimensi spiritual semata, tetapi harus berbuah pada kepedulian sosial. Di tengah keberagaman, nilai kebersamaan dan toleransi harus terus dijaga,” tegasnya.
Ia berharap semangat berbagi dan solidaritas yang tumbuh selama Ramadan tidak hanya berlangsung sesaat, melainkan menjadi karakter yang terus hidup dalam kehidupan bermasyarakat.
Dengan demikian, Ramadan bukan hanya bulan penuh berkah secara individual, tetapi juga menjadi fondasi penguatan kohesi sosial, mempererat ukhuwah, dan meneguhkan kembali komitmen kebangsaan dalam bingkai persatuan.(Kelana Peterson).










