MEDIABBC.co.id, Palembang — Peta olahraga nasional berpotensi kedatangan “pemain baru” yang tak bisa lagi dipandang sebelah mata: domino. Bukan sekadar hiburan santai di sudut warung kopi, permainan ini kini sedang dipoles serius menjadi cabang olahraga prestasi—dan Sumatera Selatan, khususnya Palembang, bergerak lebih cepat dibanding daerah lain.
Langkah itu terlihat jelas dalam gelaran Kejuaraan Provinsi (Kejurprov) Domino I Sumatera Selatan di Jakabaring Sport Center, Sabtu (18/4/2026).
Namun sorotan utama bukan sekadar kompetisinya, melainkan kesiapan sistem yang mulai dibangun: dari pembinaan, regenerasi, hingga arah profesionalisasi atlet.
Di tengah euforia pelantikan kepengurusan baru PB ORADO periode 2026–2030, Palembang justru muncul sebagai episentrum gerakan transformasi ini.

Sekretaris Pengprov ORADO Sumsel, Ari Maulana, menegaskan bahwa Kejurprov bukan sekadar ajang adu strategi kartu, melainkan batu loncatan menuju ekosistem olahraga yang lebih tertata.
“Selama ini domino identik dengan rekreasi. Sekarang kami dorong menjadi olahraga yang punya sistem, punya jenjang, dan punya masa depan atlet,” ujarnya.
Sebanyak 17 tim dari kabupaten/kota ambil bagian, hasil seleksi berjenjang yang sebelumnya digelar pada Februari. Format tim yang terdiri dari dua pemain inti dan satu cadangan menunjukkan bahwa domino mulai diposisikan setara dengan cabang olahraga lain yang mengandalkan strategi tim, bukan sekadar permainan individu.
Dua kategori, yunior (14–17 tahun) dan senior, menjadi sinyal penting bahwa regenerasi bukan lagi wacana. ORADO mulai membidik pembinaan jangka panjang, bukan sekadar mengejar juara instan.
Namun yang paling mencolok justru bukan di arena pertandingan, melainkan di luar lapangan.
Pengurus ORADO Palembang kini mulai meninggalkan pola lama berbasis wilayah, beralih ke sistem klub. Ini adalah langkah krusial yang selama ini menjadi pembeda antara olahraga rekreasi dan olahraga prestasi.
Sekretaris Jenderal Pengcab ORADO Palembang, Johanes Firano, menyebut model klub akan menjadi tulang punggung pembinaan ke depan.
“Kalau mau serius, harus berbasis klub. Dari situ pembinaan berjalan, kompetisi hidup, dan atlet terbentuk secara berjenjang,” katanya.
Pendekatan ini membuka ruang profesionalisasi: mulai dari manajemen tim, pola latihan, hingga potensi sponsor di masa depan. Meski masih dalam tahap pendataan, antusiasme komunitas disebut tinggi. Banyak kelompok pemain domino yang selama ini informal kini mulai berbenah untuk masuk ke sistem resmi.
Di sisi lain, Kejurprov juga punya fungsi strategis: menjadi gerbang menuju Kejuaraan Nasional Domino di Bogor pada 24 April mendatang. Para juara akan langsung mewakili Sumsel—dengan target yang tidak main-main, yakni menembus tiga besar nasional.
Ambisi itu terdengar berani, tetapi bukan tanpa dasar. Sumatera Selatan dikenal memiliki basis pemain domino yang masif dan tersebar hingga ke level akar rumput.
Masalahnya selama ini bukan pada jumlah pemain, melainkan absennya sistem.
Kini, ketika struktur mulai dibangun dari klub, kompetisi berjenjang, hingga jalur menuju nasional, potensi tersebut mulai menemukan arah.
Jika konsistensi ini terjaga, Palembang tidak hanya akan melahirkan atlet domino berprestasi, tetapi juga bisa mengubah wajah olahraga ini secara nasional. Dari yang dulu dianggap permainan pinggiran, domino berpeluang naik kelas menjadi cabang kompetitif dengan standar profesional.
Dan jika itu terjadi, transformasi besar ini akan dikenang bermula dari satu kota: Palembang.(H Rizal).













