MEDIABBC.co.id, Palembang – Upaya meningkatkan kesadaran politik generasi muda mulai digarap lebih serius. Partai NasDem melalui DPW Sumatera Selatan meluncurkan program “Remaja Bernegara”, sebuah sekolah politik yang tidak sekadar memberi teori, tetapi langsung mengajak pelajar “masuk” ke dalam simulasi pemerintahan.
Program yang akan digelar pada 25–26 April 2026 di Palembang ini dirancang berbeda dari pendidikan politik pada umumnya. Alih-alih ceramah satu arah, peserta justru akan mempraktikkan langsung bagaimana proses legislasi berjalan di tingkat daerah.
Sebanyak 79 pelajar SMA/SMK akan “disulap” menjadi aktor utama dalam miniatur pemerintahan. Mayoritas peserta akan berperan sebagai anggota DPRD Sumatera Selatan, sementara lainnya mengisi posisi strategis seperti kepala daerah hingga sekretaris pemerintahan.

Sekretaris DPW NasDem Sumsel, Nopianto, menegaskan pendekatan ini dipilih untuk menjawab rendahnya literasi politik di kalangan generasi muda.
“Selama ini politik dianggap jauh dan abstrak bagi pelajar. Lewat simulasi ini, mereka akan merasakan langsung bagaimana sebuah kebijakan lahir dari perdebatan hingga pengambilan keputusan,” ujarnya.
Dalam simulasi tersebut, peserta akan menjalani seluruh tahapan pembentukan peraturan daerah, mulai dari pengajuan rancangan, pembahasan antarfraksi, hingga proses pengesahan.
Dinamika yang terjadi pun dibuat menyerupai kondisi nyata, termasuk perbedaan pandangan dan negosiasi politik, langkah ini sekaligus menjadi strategi kaderisasi dini.
NasDem menilai pelajar yang saat ini berada di bangku sekolah akan segera memasuki usia pemilih, bahkan berpotensi menjadi pemimpin masa depan.
Anggota Dewan Pertimbangan DPW NasDem Sumsel, Danar Dahlan, menyebut pendidikan politik tak bisa lagi ditunda atau diberikan secara normatif.
“Kalau ingin demokrasi kita sehat, generasi mudanya harus paham sejak awal bukan hanya tahu memilih, tapi juga mengerti bagaimana sistem itu bekerja,” katanya.
Program “Remaja Bernegara” sendiri merupakan bagian dari agenda nasional yang telah dijalankan di berbagai daerah.
Sumatera Selatan menjadi salah satu wilayah yang mulai mengadaptasi program ini secara lebih aplikatif, dengan rencana ekspansi hingga tingkat kabupaten/kota.
Di tengah rendahnya partisipasi politik pemilih muda dan maraknya apatisme terhadap isu publik, pendekatan seperti ini menjadi eksperimen menarik: apakah simulasi kekuasaan bisa menjadi pintu masuk lahirnya generasi yang lebih kritis, atau sekadar menjadi kegiatan seremonial?( H Rizal ).













