MEDIABBC.co.id, PALEMBANG — Delapan hari perayaan HUT ke-81 Kemerdekaan RI di RT 010/RW 011, Kelurahan Sako, Palembang, meninggalkan pesan yang lebih penting daripada sekadar daftar pemenang perlombaan.
Di tengah kehidupan kota yang semakin sibuk dan individual, warga justru memilih memperbanyak perjumpaan. Mereka berkumpul, bekerja bersama, saling mendukung, dan menghidupkan kembali suasana kampung yang mulai jarang ditemui dalam keseharian masyarakat perkotaan.
Rangkaian kegiatan yang digelar selama delapan hari menjadi ruang bersama bagi warga. Anak-anak, orang dewasa hingga para orang tua memiliki kesempatan untuk terlibat dalam suasana perayaan kemerdekaan.
Perlombaan memang menjadi bagian yang paling terlihat. Namun, di balik kemeriahan itu terdapat pekerjaan yang tidak kalah penting: bagaimana warga membangun kebersamaan dan memastikan kegiatan dapat berjalan dari awal hingga selesai.
Warga tidak sekadar datang ketika acara berlangsung. Keterlibatan mereka membuat perayaan tersebut berubah menjadi kegiatan bersama, bukan sekadar agenda panitia lingkungan.
“Semakin kompak, semakin bersatu dan lebih bersemangat setiap tahun dalam menyambut Hari Kemerdekaan,” ujar perwakilan warga.
Kalimat itu menjadi gambaran bagaimana masyarakat di tingkat lingkungan memaknai kemerdekaan. Bagi mereka, nasionalisme tidak harus selalu hadir dalam bentuk seremoni besar. Ia bisa tumbuh dari hubungan sederhana antartetangga.
Saling membantu, hadir dalam kegiatan lingkungan, memberi dukungan kepada peserta, hingga menjaga suasana tetap kondusif merupakan bentuk kecil dari nilai persatuan yang justru langsung dirasakan masyarakat.
Karena itu, perayaan HUT RI di RT 010/RW 011 tidak berhenti ketika perlombaan berakhir. Ada modal sosial yang ikut dibangun: warga semakin mengenal satu sama lain dan memiliki ruang untuk kembali berinteraksi.
Hal tersebut menjadi penting ketika kehidupan perkotaan cenderung membuat orang lebih sibuk dengan urusan masing-masing.
Delapan hari kegiatan itu pada akhirnya bukan tentang siapa yang paling cepat, paling kuat, atau paling banyak membawa pulang hadiah.
Yang dipertaruhkan justru jauh lebih besar: apakah semangat kebersamaan masih bisa dipertahankan dari lingkungan terkecil tempat masyarakat hidup.
Dan di Sako, jawabannya terlihat dari warga yang memilih berkumpul, bergotong royong, dan merayakan kemerdekaan bersama.(H Rizal).

=========================================












