=========================================
News  

Adat Jadi Fondasi Pembangunan, MPSI Dorong Wanam Kembangkan Potensi Budaya dan Ekonomi Masyarakat

MEDIABBC.co id – MERAUKE — Arus pembangunan yang terus bergerak di wilayah Wanam, Distrik Ilwayab, Kabupaten Merauke, dinilai harus berjalan beriringan dengan penguatan masyarakat adat. Pembangunan tidak boleh menjadikan masyarakat adat sekadar penonton, melainkan harus menempatkan mereka sebagai pelaku utama sekaligus penerima manfaat.

Pesan tersebut mengemuka dalam Dialog Masyarakat yang digelar Merah Pusaka Stratejik Indonesia (MPSI) di Kampung Wanam. Dialog mempertemukan Ketua Adat Wanam Yohanis Agabe Mahuze, Kepala Kampung Wanam Kosmas Kaize, masyarakat setempat, serta Peneliti MPSI Annas Fitrah Akbar.

Forum tersebut membahas bukan hanya pentingnya mempertahankan adat dan kebudayaan, tetapi juga bagaimana kekayaan budaya Wanam dapat dikembangkan menjadi sumber pengetahuan, penguatan identitas, sekaligus peluang ekonomi bagi masyarakat.

Ketua Adat Wanam Yohanis Agabe Mahuze mengatakan, Wanam memiliki modal budaya yang kuat, namun belum seluruhnya terdokumentasi dan dikembangkan secara optimal.

Menurutnya, nama Wanam telah dikenal luas dan menjadi salah satu kekuatan yang dapat dikembangkan untuk memperkenalkan sejarah, norma, simbol adat, serta pengetahuan masyarakat kepada generasi berikutnya maupun masyarakat dari luar Wanam.

“Wanam itu adalah brand yang sangat dikenal. Ini adalah harta masyarakat,” ujar Yohanis.
Ia mendorong agar kekayaan adat tidak hanya diwariskan melalui cerita lisan, tetapi mulai didokumentasikan dalam bentuk buku, catatan sejarah, maupun materi pembelajaran.

Dokumentasi dinilai penting agar generasi muda tetap memahami akar budaya mereka sekaligus membuka ruang bagi mahasiswa, peneliti, dan masyarakat luar untuk mengenal Wanam berdasarkan perspektif masyarakat adatnya sendiri.

Namun, Yohanis menegaskan, menjaga adat bukan berarti menutup diri dari perkembangan ekonomi. Sebaliknya, kebudayaan dapat menjadi pintu masuk untuk menciptakan sumber penghasilan baru bagi masyarakat.
Rumah adat, misalnya, dapat dikembangkan sebagai ruang edukasi dan tempat menerima pengunjung. Pertunjukan budaya dapat diselenggarakan secara berkala, masyarakat lokal dapat dilibatkan sebagai pemandu, sementara kerajinan yang dihasilkan mama-mama dan perajin lokal dapat dipasarkan lebih luas.

Dengan demikian, kebudayaan tidak hanya menjadi sesuatu yang dipertontonkan, tetapi juga mampu memberikan manfaat ekonomi secara langsung kepada masyarakat sebagai pemilik kebudayaan.

Rumah Budaya Jadi Gagasan Penguatan Adat
Kepala Kampung Wanam Kosmas Kaize menilai gagasan tersebut membutuhkan ruang nyata di tingkat kampung.

Salah satu gagasan yang mengemuka adalah pembentukan sanggar atau rumah budaya yang dapat menjadi pusat aktivitas masyarakat. Tempat tersebut nantinya dapat digunakan untuk produksi kerajinan, penyimpanan perlengkapan adat, hingga pembelajaran budaya bagi generasi muda.
Ruang budaya juga diharapkan mampu mempertemukan pelestarian adat dengan aktivitas ekonomi masyarakat secara lebih terorganisasi.

Dalam dialog tersebut ditegaskan bahwa pemerintah kampung dan lembaga adat harus membangun sinergi.

“Kalau kita mau tingkatkan budaya, kita harus kerja sama. Adat jalan sendiri, pemerintah jalan sendiri, tidak bisa,” menjadi salah satu penegasan dalam forum.

Masyarakat juga mendorong keterlibatan generasi muda dan mahasiswa asal Wanam untuk mengambil peran lebih besar dalam mendokumentasikan sejarah dan kebudayaan masyarakatnya.

Selama ini, sebagian pengetahuan dan cerita adat masih diwariskan secara lisan. Tanpa dokumentasi, pengetahuan tersebut dikhawatirkan semakin sulit diwariskan ketika terjadi pergantian generasi.

Ke depan, dokumentasi tersebut dapat dihimpun melalui rumah adat, pusat budaya, atau museum kampung yang berfungsi sebagai ruang pengetahuan bagi masyarakat maupun pengunjung dari luar Wanam.

MPSI Tekankan Perencanaan, Bukan Sekadar Bangun Fasilitas

Peneliti MPSI Annas Fitrah Akbar menekankan bahwa gagasan besar mengenai pengembangan budaya harus disertai perencanaan yang matang.

Menurutnya, pembangunan sanggar, pusat kerajinan maupun fasilitas budaya tidak boleh berhenti pada pembangunan fisik.
Tanpa dokumentasi, kesiapan masyarakat, sistem pengelolaan dan pasar yang jelas, pembangunan fasilitas berpotensi tidak memberikan manfaat berkelanjutan.

“Yang kita dahulukan, perkuat dokumentasinya dulu. Kita kuatkan kebudayaannya. Kita bentuk bukunya, sambil menyusun tempat kerajinan,” ujar Annas.

Ia mengingatkan agar pengembangan ekonomi berbasis budaya tidak dimulai hanya dari pembangunan gedung tanpa terlebih dahulu memastikan produk, pengelolaan dan pasar.

“Jangan sampai kita bikin gedung, terus kita bikin anyam-anyam, tidak ada yang beli. Ini perlu kita rencanakan, yang mana dahulu,” katanya.

Karena itu, MPSI mendorong agar berbagai gagasan masyarakat diterjemahkan menjadi rencana aksi jangka pendek dan jangka panjang.

Tahap awal dapat diarahkan pada dokumentasi adat, pemetaan potensi, peningkatan kapasitas masyarakat serta identifikasi produk budaya yang memiliki peluang untuk dikembangkan.
Setelah fondasi tersebut terbentuk, pengembangan dapat dilanjutkan melalui ruang produksi, pemasaran, promosi digital hingga kegiatan budaya yang mampu menarik masyarakat dari luar Wanam.

“Nanti perlu kita susun rencana aksi. Rencana jangka pendeknya apa, jangka panjangnya apa. Jadi terstruktur,” ujar Annas.

Wanam Didorong Jadi Pusat Edukasi Budaya
Salah satu gagasan yang muncul dalam dialog adalah mendorong Wanam menjadi pusat edukasi budaya di Papua Selatan, termasuk melalui penyelenggaraan festival budaya tahunan.
Namun, Annas menegaskan bahwa keputusan mengenai adat yang diperkenalkan, cara menampilkannya, serta nilai-nilai yang harus dijaga harus dirumuskan bersama masyarakat sebagai pemilik kebudayaan.

Dialog MPSI tersebut pada akhirnya membawa pesan bahwa pelestarian budaya tidak dapat dipisahkan dari agenda pembangunan masyarakat.

Wanam tengah berada dalam arus perubahan. Karena itu, pembangunan tidak cukup hanya mengubah wajah wilayah, tetapi juga harus memperkuat masyarakat yang hidup di dalamnya.

Masyarakat adat harus tetap memiliki ruang untuk menentukan arah pembangunan, menjaga identitas budaya, sekaligus memperoleh manfaat ekonomi dari potensi yang mereka miliki.

Wanam tidak harus memilih antara pembangunan dan adat. Keduanya dapat berjalan bersama, selama masyarakat adat tetap menjadi pemilik, pelaku utama, dan penerima manfaat dari setiap perubahan yang berlangsung di tanah mereka sendiri.

(Kelana-03)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *