MEDIABBC.co.id , Rembang – Di tengah gempuran digitalisasi, semangat merawat tradisi batik tetap menyala di Kabupaten Rembang. Sebanyak 30 pembatik lokal siap memperkuat kompetensi untuk menjaga warisan budaya agar tetap relevan dan berdaya saing di era modern.
Di balik setiap goresan canting, tersimpan keterampilan, ketelitian, dan warisan budaya yang terus dijaga dari generasi ke generasi. Bagi masyarakat Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, batik bukan sekadar kain bermotif, melainkan bagian dari identitas budaya sekaligus sumber penghidupan. Melalui Batik Lasem yang dikenal dengan kekhasan corak dan perpaduan budaya Jawa-Tionghoa, para perajin terus menjaga tradisi yang kini juga memiliki potensi besar untuk berkembang sebagai produk ekonomi kreatif.
Namun, melestarikan warisan budaya tidak cukup hanya dengan mempertahankan tradisi. Peningkatan keterampilan, inovasi, dan pengakuan kompetensi menjadi bekal penting agar para pembatik mampu menjaga kualitas karya sekaligus menghadapi perkembangan kebutuhan pasar. Semangat inilah yang dibawa 30 peserta dalam kegiatan Pelatihan Berbasis Kompetensi (PBK) dan Sertifikasi Kompetensi Skema Pembatik Tulis di Kabupaten Rembang pada 3–5 November 2026.
Bertempat di area ruang kreatif Kompleks Kantor Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Rembang, kegiatan ini menjadi bagian dari Program Aktivasi Creative Hub yang mendorong pemanfaatan ruang-ruang kreatif sebagai tempat belajar, berkarya, dan berkolaborasi. Melalui pengembangan kompetensi, ruang kreatif diharapkan tidak hanya menjadi tempat berkumpulnya komunitas, tetapi juga wadah untuk memperkuat kualitas talenta lokal dan mengembangkan potensi ekonomi kreatif daerah.
Selama pelatihan, peserta mendapatkan pembekalan mengenai teknik pembatikan tulis yang mengacu pada Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI). Materi mencakup tahapan pemeriksaan kain, pembuatan pola, penerapan malam menggunakan canting, hingga pemeriksaan kualitas hasil pembatikan. Melalui pembelajaran teori dan praktik, para peserta didorong untuk meningkatkan ketelitian, konsistensi, dan kualitas pengerjaan batik sesuai standar kompetensi profesi.
Usai pelatihan, peserta dijadwalkan mengikuti uji sertifikasi kompetensi oleh Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) Batik Indonesia yang berlisensi Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP). Proses asesmen ini bertujuan mengukur kemampuan peserta berdasarkan standar kompetensi yang berlaku. Peserta yang dinyatakan kompeten nantinya dapat memperoleh sertifikat kompetensi sebagai bentuk pengakuan formal atas keterampilan profesionalnya, sekaligus menjadi nilai tambah dalam memperluas peluang usaha dan meningkatkan daya saing produk batik.
Kepala Pusat Pengembangan SDM Ekonomi Kreatif, R. Adi Mukhtar Rivai, menekankan bahwa perkembangan teknologi, termasuk kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), membuka peluang baru dalam pengembangan desain dan motif batik. Namun, teknologi tetap perlu berjalan beriringan dengan keterampilan dan kreativitas manusia. “Di era digital, AI mungkin sudah mampu membantu menciptakan berbagai motif batik. Namun, ada nilai yang tidak dapat digantikan oleh teknologi, yaitu sentuhan manusia, ketelitian, dan kreativitas yang dituangkan dalam setiap goresan canting.
Karena itu, peningkatan kompetensi menjadi penting agar para pembatik tidak hanya mampu menjaga warisan budaya, tetapi juga terus berinovasi dan menghasilkan karya yang memiliki nilai tambah,” ujar Adi.
Senada dengan hal tersebut, Plt. Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Rembang, Isti Chomawati, M.Pd., menyoroti pentingnya kesiapan para perajin dalam menghadapi perkembangan teknologi dan transformasi digital di industri kreatif.
“Perajin batik perlu terus mengikuti perkembangan zaman, termasuk kemajuan teknologi digital yang membuka peluang baru dalam berkarya dan memasarkan produk. Untuk itu, kemampuan yang dimiliki tidak boleh berhenti pada keterampilan yang sudah dikuasai. Para perajin harus terus memperkaya pengetahuan dan meningkatkan kompetensi melalui berbagai pelatihan, sehingga batik dapat terus berkembang dan memiliki daya saing yang lebih luas,” ungkap Isti.
Di tengah perkembangan teknologi, masa depan batik bukan terletak pada pilihan antara tradisi atau inovasi, melainkan pada kemampuan para perajin untuk memadukan keduanya. Melalui penguatan kompetensi, kekhasan Batik Lasem diharapkan tetap terjaga sekaligus mampu beradaptasi dengan kebutuhan industri kreatif yang terus berkembang. Kegiatan yang diselenggarakan oleh Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif melalui Pusat Pengembangan SDM Ekonomi Kreatif ini merupakan bagian dari upaya memperkuat kualitas sumber daya manusia ekonomi kreatif sekaligus menghidupkan ruang-ruang kreatif di daerah.
Melalui Program Aktivasi Creative Hub, para pembatik Rembang diharapkan tidak hanya mampu menjaga warisan budaya, tetapi juga tumbuh menjadi talenta kriya yang kompeten, profesional, dan mampu menghasilkan karya bernilai ekonomi lebih tinggi serta berdaya saing di pasar yang lebih luas.**
Jurnalis : Kelana003

=========================================
========================================












