
MEDIABBC.co.id – BOLAANG MONGONDOW – Polemik aktivitas masyarakat adat di kawasan Gunung Potolo, Desa Tanoyan, Kecamatan Lolayan, Kabupaten Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara, kembali mencuat. Berdasarkan hasil investigasi di lapangan, muncul dugaan bahwa gubernur maupun aparat penegak hukum terkesan tutup mata terhadap persoalan yang dihadapi warga adat.
Ratusan anggota Brigade Bogani bersama masyarakat adat sebelumnya menggelar aksi dan dialog pada Rabu (4/3/2026). Kegiatan tersebut diawali di Aula Gedung Perpustakaan dan Arsip Kotamobagu, kemudian dilanjutkan dengan aksi di sekitar Patung Bogani serta di wilayah Gunung Potolo. Peserta aksi diperkirakan berjumlah sekitar 250 orang.

Dalam aksi itu, masyarakat adat menyampaikan keluhan terkait ketidakmampuan mereka menjual hasil emas yang diklaim sebagai hasil keringat sendiri di tanah adat warisan leluhur. Kondisi tersebut disebut berdampak langsung terhadap perekonomian keluarga, terutama menjelang Idul Fitri.
“Kami tidak bisa jual emas hasil keringat kami sendiri di tanah adat kami. Anak dan istri kami menderita menyambut Idul Fitri yang sudah di depan mata,” ungkap perwakilan massa aksi.

Selain persoalan ekonomi, warga juga menyoroti adanya dugaan tindakan kriminalisasi terhadap masyarakat adat yang beraktivitas di wilayah tersebut. Mereka meminta agar pemerintah dan aparat tidak hanya melakukan penindakan, tetapi juga memberikan pembinaan dan solusi konkret.
“Kami hanya sekadar menyambung hidup di tanah warisan leluhur kami. Bimbing kami, bukan kriminalisasi kami,” tegasnya.
Berdasarkan penelusuran dan investigasi lapangan, sejumlah pihak menilai belum terlihat langkah tegas maupun solusi nyata dari pemerintah provinsi maupun aparat penegak hukum terkait polemik ini. Dugaan sikap pembiaran atau tutup mata inilah yang kemudian memicu reaksi dan kekecewaan masyarakat adat.
Dalam dialog yang digelar, masyarakat adat juga membahas posisi perjuangan masyarakat Bolaang Mongondow Raya (BMR) dalam mewujudkan kemandirian ekonomi, kedaulatan politik, serta martabat adat dan budaya.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak pemerintah provinsi maupun aparat penegak hukum terkait dugaan tersebut. Warga berharap ada respons terbuka dan solusi berkeadilan atas persoalan yang terjadi di Gunung Potolo, Desa Tanoyan.
(Tim -redaksi)












