Mayat Pria Lansia Ditemukan Membusuk di Sawah Banyuasin, Sistem Perlindungan Warga Rentan Dipertanyakan
MEDIABBC.co.id, BANYUASIN – Penemuan jasad pria lanjut usia di area persawahan Simpang Meritai, Desa Sungai Pinang, Kecamatan Rambutan, Sabtu (28/2/2026) pagi, bukan sekadar kabar duka. Peristiwa ini memunculkan pertanyaan serius: bagaimana seorang lansia yang diduga pikun bisa hilang tanpa terdeteksi hingga akhirnya ditemukan tak bernyawa di tengah sawah?
Sekitar pukul 09.20 WIB, warga Desa Sungai Pinang digegerkan dengan penemuan mayat pria tergeletak di area persawahan. Laporan itu langsung ditindaklanjuti personel Polsek Rambutan yang dipimpin Kapolsek Iptu Harmoko. Petugas tiba di lokasi sekitar pukul 09.55 WIB dan mendapati korban sudah tidak bernyawa.
Korban ditemukan mengenakan celana jeans biru tua dan baju batik biru tua. Identitas awal mengarah pada Saripto Imam Sejati (67), warga Kecamatan Plaju, Kota Palembang, yang sebelumnya dilaporkan hilang oleh pihak keluarga. Informasi awal menyebut korban diduga memiliki riwayat pikun.
Jika benar korban adalah lansia dengan gangguan ingatan, muncul pertanyaan krusial: sejak kapan ia dinyatakan hilang? Apakah ada upaya pencarian terkoordinasi? Dan bagaimana seorang pria berusia 67 tahun bisa berjalan hingga ke area persawahan di wilayah berbeda tanpa ada yang menyadari?
Salah satu saksi, Jamaris (50), Kepala Dusun V Desa Sungai Pinang, turut dimintai keterangan. Namun hingga kini belum ada penjelasan rinci mengenai kronologi lengkap sebelum korban ditemukan.
Sekitar pukul 10.30 WIB, jenazah dievakuasi ke RS Bhayangkara Palembang untuk pemeriksaan medis. Penyebab kematian masih dalam penyelidikan.
Peristiwa ini membuka kembali persoalan klasik: lemahnya sistem perlindungan terhadap warga lanjut usia yang rentan, terutama mereka yang mengalami demensia atau gangguan ingatan. Tanpa sistem pelaporan cepat, jaringan pencarian terintegrasi, atau respons darurat berbasis komunitas, kasus hilangnya lansia kerap berujung tragis.
Polisi menyatakan telah melakukan olah TKP, pendokumentasian, serta koordinasi dengan pemerintah desa setempat. Namun publik menunggu lebih dari sekadar prosedur standar. Transparansi hasil autopsi dan kejelasan waktu kematian menjadi penting untuk memastikan tidak ada unsur lain di balik kejadian ini.
Apakah ini murni musibah akibat kondisi kesehatan korban? Atau ada faktor kelalaian yang luput dari perhatian?
Hingga berita ini diturunkan, pihak Polsek Rambutan masih mendalami penyebab pasti kematian. Sementara itu, satu nyawa telah hilang—dan pertanyaan tentang perlindungan bagi warga rentan kembali menggema.(H Rizal).












