Srigala Sumsel Mengaum di Jakabaring, 10 Pemain Sumsel United Tahan Pemuncak Klasemen

oplus_1024

MEDIABBC.co.id, Palembang Stadion Gelora Sriwijaya Jakabaring bukan sekadar venue pertandingan Jumat malam (30/1/2026). Ia berubah menjadi kandang Srigala Sumsel. Di bawah komando dukungan suporter, Sumsel United—yang harus bermain dengan 10 pemain—berhasil menahan imbang pemuncak klasemen Pegadaian Championship 2025/26, Garudayaksa FC, dengan skor 0-0.

Sejak peluit awal,  Sumsel United tampil dominan, dari tribun Timur nyanyian dari Srigala Sumsel tanpa henti, koreografi rapi, dan dukungan kolektif menjadi tekanan nyata bagi tim tamu. Bahkan setelah Sumsel United kehilangan satu pemain akibat kartu merah, suara dari tribun Timur, justru semakin keras, seolah menolak kekalahan sebelum terjadi.

Hasilnya terlihat jelas di lapangan. Sumsel United bermain dengan determinasi tinggi, disiplin, dan keberanian ekstra. Garudayaksa FC—yang datang sebagai tim paling ditakuti musim ini—gagal membongkar pertahanan tuan rumah dan pulang dari Palembang tanpa gol.

Sekretaris Jenderal Srigala Sumatera Selatan, Yogi Bob, menegaskan bahwa kekuatan Sumsel United tidak hanya berada di lapangan, tetapi juga di tribun.

“Kami datang bukan untuk menonton, tapi untuk bertarung bersama tim. Selama membawa nama Sumatera Selatan, Srigala Sumsel akan berdiri paling depan,” ujarnya.

Srigala Sumsel menegaskan diri sebagai gerakan suporter terbuka, lintas latar belakang klub dan komunitas. Identitas ini menjadi pembeda di tengah kultur sepak bola nasional yang masih kerap diwarnai eksklusivitas dan konflik.

Dukungan yang tertib dan masif dari Srigala Sumsel juga memperlihatkan wajah baru sepak bola Sumatera Selatan: keras di suara, dewasa dalam sikap. Tidak ada intimidasi, tidak ada teror, yang ada hanya dorongan moral untuk kemenangan tim daerah.

Hasil imbang ini menjadi bukti bahwa sinergi tim dan suporter mulai terbentuk kuat. Jakabaring kembali menemukan rohnya sebagai kandang yang sulit ditaklukkan, dan Srigala Sumsel hadir sebagai penjaga identitas itu.

Jika konsistensi dukungan ini terus terjaga, Sumsel United tak hanya bertarung di papan klasemen. Mereka juga membawa gerakan suporter daerah yang siap menjadi contoh nasional.(,Redaksi).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *