Gerakan Akar Rumput UMKM Palembang Bangun Ekonomi Rakyat Tanpa Pungutan
MEDIABBC.co.id, Palembang – Di tengah tantangan ekonomi dan naik-turunnya daya beli masyarakat, sekelompok pelaku usaha kecil di Palembang memilih bergerak secara mandiri. Mereka membentuk Wadah UMKM Wong Kito Palembang (WKP), sebuah komunitas ekonomi rakyat yang mengusung semangat gotong royong tanpa pungutan dan tanpa ketergantungan pada bantuan pihak luar.
WKP resmi diperkenalkan ke publik melalui acara syukuran sederhana di Jl. Karya Bersama, Kelurahan Sri Mulya, Kecamatan Semarang Borang, Palembang, Rabu (7/1/2026). Berbeda dari peluncuran organisasi pada umumnya, kegiatan ini justru menampilkan wajah UMKM sesungguhnya: jajanan murah meriah khas Palembang, minuman tradisional, hingga produk rumahan para pelaku usaha mikro.
Saat ini, WKP telah menaungi lebih dari 50 pelaku UMKM yang tersebar di 10 kecamatan di Palembang, dan menargetkan ekspansi ke seluruh 18 kecamatan dalam waktu dekat.
Pembina WKP, KGS. M. Iqbal Ramadhani, mengatakan bahwa WKP lahir dari kegelisahan para pelaku UMKM yang selama ini berjalan sendiri-sendiri tanpa wadah bersama.
“Banyak pedagang kecil yang punya produk bagus, tapi tidak punya sistem, tidak punya jejaring, dan tidak punya ruang tumbuh. WKP hadir sebagai solusi, bukan janji,” ujar Iqbal.
Ia menegaskan, sejak awal WKP dibangun dengan prinsip tanpa pungutan. Fokus utama adalah membuat UMKM bertahan dan berkembang terlebih dahulu.
“Kami tidak menarik iuran. Biarkan pelaku UMKM maju dulu. Ketika sudah kuat, barulah hasilnya bisa dikembangkan bersama. Spiritnya gotong royong,” katanya.
WKP mengusung filosofi semut dan lebah sebagai identitas gerakan—melambangkan kerja kolektif, disiplin, dan manfaat bagi banyak orang. Filosofi ini juga tercermin dalam konsep usaha yang dikembangkan: kuliner rakyat dengan harga terjangkau, mulai dari Rp1.000 hingga Rp10.000, yang menyasar semua lapisan masyarakat.
Tak hanya kuliner, WKP mulai merambah sektor produktif lainnya seperti peternakan ayam kampung, rencana budidaya ikan, hingga rumah terapi yang ditargetkan mulai beroperasi dalam waktu dekat. Seluruh pengembangan usaha dilakukan dengan memanfaatkan potensi dan lahan milik anggota secara kolektif.
Ke depan, WKP juga merencanakan pasar murah, pasar UMKM tingkat kecamatan, serta penguatan jaringan distribusi produk lokal. Semua aktivitas dikelola secara mandiri oleh anggota, tanpa ketergantungan pada anggaran pemerintah.
Iqbal berharap, WKP dapat menjadi model penguatan UMKM berbasis komunitas yang sejalan dengan upaya pemerintah dalam mendorong ekonomi kerakyatan.
“UMKM adalah tulang punggung ekonomi. Kalau mereka punya wadah yang kuat, ekonomi rakyat akan bergerak. WKP ingin membuktikan bahwa dari bawah pun, perubahan bisa dimulai,” pungkasnya.(H Rizal).













