MEDIABBC.co.id, Palembang- Di sebuah warung kopi sederhana, di antara denting gelas dan asap rokok yang menari pelan, Edi Susilo memilih duduk tenang. Ia menyeruput kopi hitam—tanpa basa-basi, tanpa banyak gula. Dari meja kecil itulah, lahir perenungan tajam tentang satu hal yang kerap dirayakan namun jarang diuji: pertemanan.
Bagi Edi, pertemanan hari ini kerap tampak gemerlap di permukaan, tetapi rapuh ketika disentuh kenyataan. “Kita sering merasa kaya karena dikelilingi banyak orang,” tulisnya dalam refleksi berjudul Banalitas Perkawanan. Namun, ia mengingatkan, keramaian bukanlah jaminan kesetiaan. Banyak hubungan, kata Edi, hanya hidup selama api kepentingan masih menyala.
Dengan gaya khas penikmat kopi pahit, Edi mengutip sebuah pepatah lama yang terasa relevan di tengah zaman serba transaksional: “Kalau kamu mau lihat siapa temanmu, dialah yang ada untukmu saat kamu tiada.”
“Tiada” yang dimaksud bukan semata kematian biologis. Menurut Edi, seseorang bisa “tiada” saat kehilangan jabatan, kekuasaan, uang, atau reputasi. Di titik itulah, pertemanan diuji secara brutal dan jujur.
“Kerumunan yang dulu memuja, perlahan akan menutup pintu dengan sunyi,” tulisnya.
Menariknya, Edi tidak berhenti pada renungan moral. Ia mengajak pembaca melihat fenomena ini dari sudut pandang psikologi evolusioner. Manusia, katanya, memang membawa naluri reciprocal altruism—logika saling menguntungkan demi bertahan hidup. Ketika seseorang tak lagi memiliki nilai tukar, naluri menolong pun sering ikut padam.
Namun Edi menegaskan, manusia sejati tidak berhenti pada insting purba.
“Teman yang tetap bertahan saat kita tak lagi punya apa-apa adalah mereka yang berhasil menaklukkan sisi binatang dalam dirinya,” tulisnya. Dalam bahasa neurosains, ia menyebut peran empati, oksitosin, dan kesadaran moral yang melampaui sekadar hormon kesenangan.
Untuk memperkuat pesannya, Edi menyinggung kisah-kisah abadi seperti Hachiko—anjing setia yang menunggu tuannya hingga mati—dan legenda Damon dan Pythias, simbol persahabatan yang rela dibayar dengan nyawa. Baginya, kesetiaan adalah costly signaling paling jujur: tidak bisa dipalsukan karena harga yang dibayar terlalu mahal.
Di akhir tulisannya, Edi kembali ke secangkir kopi hitam di depannya. Pahit, tetapi jujur. Seperti hidup. Seperti pertemanan yang sejati.
“Menjadi teman saat pesta itu mudah,” tulisnya. “Tapi menjadi kawan saat sepi, saat seseorang sudah ‘tiada’, itu tugas para ksatria.”
Refleksi Edi Susilo bukan sekadar catatan personal. Ia menjadi cermin sosial di tengah budaya relasi yang makin pragmatis. Sebuah pengingat bahwa pada akhirnya, bukan soal berapa banyak orang yang datang saat kita berjaya, melainkan siapa yang tetap menyebut nama kita dengan hormat saat kita sudah tak lagi ada.
Seperti kopi pahit yang ia nikmati, tulisan Edi tidak menawarkan manis berlebihan. Namun justru di situlah kekuatannya: meninggalkan jejak rasa yang lama diingat.(H Rizal).













