MEDIABBC.co.id – MUBA – Gelombang protes masyarakat Musi Banyuasin (Muba) terhadap kerusakan parah jalan lintas Sekayu-Lubuklinggau mencapai titik didih. Gabungan aktivis dari DPD Lembaga Advokasi Negara (LAN), GEMPITA, Cakar Sriwijaya, dan GERAM menggelar aksi blokade jalan dan bakar ban di Desa Sugihwaras, Kecamatan Babat Toman,pada Rabu (04/02/2026),jadi sorotan tajam dan menjadi viral di semua media sosial sejagat raya tentang sumatera selatan.
Dilansir dari beberapa pemberitaan dan berbagai media sosial yang beredar menjadi sorotan publik.

Ketua DPD LAN Muba, Fitriandi, S.Sos., dalam orasi berapi-api menyampaikan tuntutan radikal sebagai bentuk kekecewaan. Ia secara terbuka mendesak Gubernur Sumatera Selatan untuk meletakkan jabatan jika gagal membenahi infrastruktur vital tersebut.
“Jika tidak sanggup memperbaiki jalan lintas ini, kami sarankan Gubernur Sumsel mundur secara sukarela. Jangan biarkan rakyat terus menderita karena kegagalan pemerintah mengelola sektor vital,” tegas Fitriandi di hadapan massa aksi.
Tak hanya menuntut pengunduran diri, Fitriandi menyerukan gerakan pembangkangan sipil. Ia memberikan tenggat waktu satu bulan bagi Pemerintah Provinsi untuk memulai perbaikan permanen. Jika diabaikan, ia menyerukan warga Muba untuk berhenti membayar pajak kepada negara.
“Ketaatan pajak warga menjadi ironi di tengah jalan yang hancur lebur. Tidak ada gunanya taat pajak kalau hak warga akan infrastruktur layak diabaikan. Jika dalam satu bulan tidak ada perbaikan, berhenti bayar pajak!” serunya.
Bahkan, dalam pernyataan sarkas yang menggambarkan batas kesabaran warga, Fitriandi menyebut Gubernur lebih baik “terjun ke Sungai Musi” jika tidak mampu mencarikan solusi nyata.
Kondisi Jalan Melumpuhkan Ekonomi
Senada dengan itu, Ahmad Jahri, S.H., menegaskan bahwa jalur Sekayu–Lubuklinggau adalah urat nadi ekonomi masyarakat. Namun, saat ini kondisinya penuh lubang dan sangat membahayakan nyawa.
“Kami minta tindakan signifikan dalam satu minggu ini. Jika tidak, kami akan turun dengan massa yang jauh lebih besar,” ancam Jahri.
Ketua GEMPITA Muba, Mauzan, menambahkan bahwa masyarakat sudah jenuh dengan metode perbaikan “tambal sulam” yang dinilai hanya membuang anggaran tanpa hasil jangka panjang.
Adapun tiga tuntutan utama massa aksi adalah:
Perbaikan total Jalan Sekayu–Lubuklinggau secara permanen dan berkualitas.
Penghentian metode tambal sulam yang tidak efektif.
Transparansi anggaran dan jadwal perbaikan kepada publik.
Belum Ada Respon Pemerintah
Meski aksi ini telah viral dan menjadi sorotan tajam di media sosial sebagai rapor merah bagi kepemimpinan Gubernur Sumatera Selatan, hingga berita ini diturunkan belum ada pernyataan resmi atau dapat di konfirmasikan dari pihak Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan terkait tuntutan massa.
Aksi yang berlangsung di bawah pengawalan ketat kepolisian ini diakhiri dengan peringatan keras: “Ini bukan sekadar ancaman, tapi peringatan. Jalan rusak adalah bukti nyata kegagalan pemerintah melayani rakyat.
(Jack)













