MEDIABBC.co.id – Jakarta – Akademisi dan Peneliti Pusat Kajian Pertahanan dan Geopolitik Universitas Al Azhar Indonesia, Dr. Heri Herdiawanto, S.Pd., M.Si menegaskan pentingnya riset advokasi yang berbasis fakta lapangan, analisis mendalam, serta menjunjung tinggi etika penelitian.
Hal itu disampaikan Dr. Heri saat menjadi pemateri dalam kegiatan pelatihan riset advokasi yang diselenggarakan Yayasan Merah Pusaka Stratejik Indonesia di Graha MPSI, Jakarta Timur, Jumat (15/5/2026).
Dalam pemaparannya, Dr. Heri menjelaskan bahwa penelitian lapangan atau field research merupakan metode penting untuk memahami fenomena sosial secara langsung melalui pendekatan kualitatif.
“Riset advokasi harus mampu menangkap realitas sosial secara utuh. Peneliti tidak cukup hanya membaca data di atas meja, tetapi harus turun langsung ke lapangan untuk memahami kondisi masyarakat secara objektif,” ujar Heri.
Ia mengatakan, pendekatan penelitian lapangan memungkinkan peneliti memperoleh data primer secara langsung dari narasumber melalui observasi, wawancara mendalam, studi kasus, hingga dokumentasi lapangan.
Menurut dia, kemampuan komunikasi menjadi salah satu faktor utama dalam keberhasilan riset advokasi, khususnya saat melakukan wawancara kepada informan.
“Peneliti harus mampu membangun komunikasi yang baik, menghargai narasumber, memiliki empati, dan menjaga kejelasan dalam bertanya. Pendekatan humanis akan membuat proses penggalian data lebih efektif,” katanya.
Heri juga menyoroti pentingnya etika penelitian, terutama terkait perlindungan informan dan kerahasiaan data penelitian.
Ia menegaskan, peneliti wajib memastikan bahwa proses pengumpulan data tidak menimbulkan dampak negatif bagi narasumber.
“Perlindungan informan adalah bagian penting dalam riset. Peneliti harus menjaga kerahasiaan identitas, menghormati budaya lokal, dan memastikan seluruh proses penelitian dilakukan secara etis,” ucapnya.
Selain itu, Heri menilai hasil penelitian seharusnya tidak berhenti sebagai dokumen akademik semata, tetapi juga mampu diterjemahkan menjadi rekomendasi kebijakan yang aplikatif melalui penyusunan policy brief.
“Riset advokasi harus mampu melahirkan rekomendasi kebijakan yang berbasis data dan dapat menjadi bahan pertimbangan bagi pengambil keputusan,” tuturnya.
Pelatihan riset advokasi tersebut diikuti oleh peserta dari kalangan mahasiswa, akademisi, pegiat sosial, jurnalis dan aktivis masyarakat sipil dengan materi mencakup teknik wawancara, penyusunan laporan penelitian, etika riset, hingga penyusunan policy brief berbasis data lapangan.
(Kelana-03)

=========================================












