MEDIABBC.co.id -Jakarta – Menjelang peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, kritik keras terhadap arah perayaan nasional mencuat. Seniman dan pegiat budaya, Iwenk MJC, secara terbuka menantang konsep peringatan kemerdekaan yang dinilai semakin menjauh dari nilai-nilai kebangsaan.
Dalam Orasi Budaya dan Kebangsaan yang digelar di kawasan Silang Monas, tepat di seberang Istana Negara, Kamis (30/7/2026), Iwenk menegaskan bahwa perayaan kemerdekaan tidak boleh sekadar menjadi panggung hiburan semata.
“Merawat nilai, melestarikan budaya, dan menguatkan persatuan adalah kunci menjaga keutuhan negeri. Bangsa besar bukan hanya membangun gedung tinggi, tetapi menjaga akar budayanya tetap hidup,” tegasnya lantang.
Orasi tersebut dihadiri sejumlah tokoh seni dan budaya, di antaranya Murnyati (Artis Go Talent Indonesia), Gus Syauqi, penyair Budi Mariyoto, pemain biola nasional Rahmat, Dirin Art Club Jakarta, Kyai Pungky, Masdjo Arifin (Founder Budayantara Media Digital Nusantara), serta komunitas Holopis Kuntul Baris.
Iwenk menyoroti kecenderungan perayaan HUT RI yang dinilai semakin didominasi hiburan populer, sementara nilai perjuangan dan budaya bangsa justru terpinggirkan. Ia mengingatkan, panggung nasional seharusnya menjadi ruang edukasi kebangsaan, bukan sekadar tontonan.
Menurutnya, Istana Negara sebagai pusat pemerintahan memiliki peran strategis dalam menentukan arah pesan yang disampaikan kepada publik.
“Kalau dari pusat yang ditampilkan adalah sejarah, budaya, dan semangat perjuangan, maka itu akan menular hingga ke daerah. Tapi jika yang ditonjolkan hanya hiburan populer, jangan heran jika generasi muda semakin jauh dari akar budayanya,” ujarnya.
Ia pun mendesak agar panggung perayaan kemerdekaan diisi dengan karya-karya yang membangkitkan nasionalisme, seperti puisi perjuangan, lagu-lagu kebangsaan, teater kepahlawanan, hingga tari tradisional Nusantara.
Lebih jauh, Iwenk mengajak pemerintah, pelaku seni, dan masyarakat untuk menjadikan momentum HUT RI sebagai sarana pendidikan karakter melalui kekuatan seni dan budaya.
Dalam orasinya, ia juga menghidupkan kembali filosofi “Holopis Kuntul Baris” sebagai simbol gotong royong dan persatuan bangsa yang dinilai mulai terkikis di tengah kehidupan yang semakin individualistis.
“Seni bukan sekadar tontonan, tetapi alat membangun kesadaran, mempererat persaudaraan, dan menjaga identitas nasional di tengah arus globalisasi,” tegasnya.
Orasi di Silang Monas ini menjadi pengingat bahwa kemerdekaan bukan hanya soal seremoni tahunan, melainkan tentang tanggung jawab menjaga warisan budaya dan nilai luhur bangsa.
“Panggung kemerdekaan harus menjadi tuntunan, bukan sekadar hiburan. Dari pusat pemerintahan harus lahir pesan kuat yang menjaga persatuan, membangkitkan nasionalisme, dan memastikan Indonesia tetap berakar pada budayanya,” pungkas Iwenk MJC.
Pewarta:Kelana0-3
Editor: Azuzet

=========================================












