MEDIABBC.co.id,. RASUA-NUWAKOT,NEPAL — Bencana banjir bandang dan longsor dahsyat yang menerjang kawasan perbatasan Nepal dan Tibet terus memakan korban. Hingga Kamis (27/8/2026), sedikitnya 359 orang dilaporkan meninggal dunia di Nepal, sementara 910 orang lainnya masih hilang dan belum diketahui keberadaannya.

Di wilayah Tibet, China, sedikitnya tiga orang dilaporkan meninggal dunia dan 558 orang masih hilang.
Dengan demikian, jumlah orang yang belum ditemukan di kedua wilayah telah mencapai lebih dari 1.400 orang, menjadikan bencana tersebut sebagai salah satu tragedi paling dahsyat yang melanda kawasan Himalaya dalam beberapa tahun terakhir.
Bencana besar ini menghantam kawasan perbatasan Nepal-China pada Rabu (26/8/2026), menghancurkan permukiman, jalan, jembatan dan sejumlah infrastruktur vital.
Ratusan Warga Asing Masih Dicari
Operasi pencarian menjadi perhatian internasional karena ratusan warga negara asing termasuk di antara korban yang hilang.
Di Nepal, badan pariwisata setempat sebelumnya melaporkan 644 wisatawan dan pelancong belum ditemukan, termasuk 517 warga negara asing. Kawasan terdampak merupakan jalur utama menuju wilayah ziarah Kailash Mansarovar dan menjadi tujuan wisatawan dari puluhan negara.
Di Tibet, dari 558 orang yang dilaporkan hilang, sekitar 260 orang merupakan warga negara asing.
Bencana ini membuat keluarga korban dari berbagai negara menunggu kabar di tengah sulitnya komunikasi dan terputusnya akses menuju sejumlah lokasi terdampak.
Diduga Dipicu Runtuhan Es dan Material Gunung
Informasi terbaru menunjukkan bencana ini diduga berkaitan dengan runtuhan besar es dan batuan dari kawasan pegunungan Himalaya yang kemudian memicu aliran air, lumpur dan material puing dalam skala besar.
Material tersebut dilaporkan menghantam aliran sungai dan memicu banjir bandang yang bergerak deras ke wilayah hilir.
Analisis awal juga mengarah pada kesimpulan bahwa aktivitas seismik yang sempat diduga sebagai gempa bumi kemungkinan berasal dari pergerakan longsor dan material dalam jumlah besar.
Banjir kemudian menyapu kawasan sepanjang jalur Sungai Bhotekoshi dan wilayah di sekitarnya, termasuk sejumlah permukiman di Distrik Rasuwa dan Nuwakot.
Ancaman Banjir Susulan Masih Membayangi
Di tengah operasi pencarian, ancaman baru kembali muncul.
Material longsor di bagian hulu dilaporkan membentuk bendungan alami atau genangan air, yang berpotensi meningkatkan risiko banjir susulan apabila material tersebut jebol.
Otoritas dan tim penyelamat terus memantau kondisi kawasan tersebut serta memperingatkan masyarakat di wilayah hilir untuk meningkatkan kewaspadaan.
Kondisi medan yang berat, jalan yang putus dan cuaca yang tidak menentu menjadi tantangan besar bagi tim penyelamat dalam menjangkau daerah-daerah yang masih terisolasi. Helikopter menjadi salah satu sarana utama untuk mengevakuasi korban dan menyalurkan bantuan ke lokasi yang sulit dijangkau melalui jalur darat.
Permukiman dan Infrastruktur Vital Hancur
Kekuatan banjir bandang menyebabkan kerusakan besar di sepanjang jalur sungai.
Rumah-rumah warga dilaporkan tertimbun lumpur dan puing, sementara sejumlah kendaraan terseret arus. Jalan raya serta jembatan di kawasan terdampak juga mengalami kerusakan parah.
Akses menuju beberapa wilayah terputus, sehingga menyulitkan proses pencarian terhadap korban yang masih hilang.
Kawasan Rasuwa menjadi salah satu daerah yang terdampak paling serius. Jalur tersebut memiliki peran penting sebagai akses perdagangan dan perlintasan antara Nepal dan China.
Selain permukiman, sejumlah fasilitas penting dan infrastruktur energi dilaporkan turut mengalami kerusakan akibat terjangan banjir besar.
Tim Penyelamat Berpacu dengan Waktu
Pemerintah Nepal mengerahkan militer, kepolisian dan tim penyelamat untuk mencari korban di tengah medan yang dipenuhi lumpur, batu dan puing.
Namun, upaya pencarian juga menghadapi kekhawatiran terhadap longsor dan banjir susulan.
Sejumlah personel keamanan dilaporkan ikut menjadi korban hilang, termasuk anggota kepolisian dan militer yang berada di kawasan terdampak ketika bencana terjadi.
Sementara itu, pemerintah China juga melakukan operasi pencarian dan penyelamatan di wilayah Tibet.
Bantuan internasional mulai berdatangan untuk membantu penanganan darurat, termasuk dukungan medis, logistik dan kebutuhan bagi para korban selamat.
Tragedi Kemanusiaan di Pegunungan Himalaya
Bencana Nepal-Tibet ini kini menjadi tragedi kemanusiaan lintas negara.
Sedikitnya 362 orang telah dilaporkan meninggal di Nepal dan Tibet, sementara lebih dari 1.400 orang masih hilang berdasarkan laporan terbaru yang tersedia.
Angka tersebut masih berpotensi berubah karena pencarian terus dilakukan dan sejumlah kawasan terdampak belum sepenuhnya dapat dijangkau.
Di tengah lumpur, puing dan hancurnya infrastruktur, tim penyelamat kini berpacu dengan waktu untuk menemukan ratusan orang yang masih belum diketahui nasibnya.
Ancaman tidak berhenti pada banjir pertama. Potensi jebolnya bendungan alami akibat material longsor kini menjadi perhatian serius, sementara ribuan warga di kawasan hilir terus berada dalam bayang-bayang bencana susulan.
(Redaksi)

=========================================












