MEDIABBC.co.id, Palembang – Di balik gemerlap bisnis gelap narkotika lintas negara, ada satu pola lama yang terus berulang: kurir jadi tameng, sementara pengendali tetap tak tersentuh.
Pengungkapan yang dilakukan Badan Narkotika Nasional Provinsi Sumatera Selatan kali ini justru menyoroti sisi paling rentan dalam rantai peredaran sabu, eksploitasi manusia.
Dua pria, Julianto (32) dan Hengki Pranata alias Eeng, kini harus berhadapan dengan ancaman hukuman berat.
Namun di balik penangkapan mereka, tersimpan fakta yang lebih dalam: keduanya hanyalah “pekerja” dalam sistem yang jauh lebih besar dan terorganisir.
Mereka dijanjikan bayaran Rp10 juta hingga Rp30 juta untuk satu kali pengantaran sabu.
Nilai yang, bagi sebagian orang, tampak menggiurkan. Tapi dalam praktiknya, angka itu hanyalah “uang tutup mulut” dari jaringan yang meraup keuntungan berkali lipat dan menempatkan kurir sebagai garis depan yang paling mudah dikorbankan.
Barang bukti yang diamankan tidak kecil, 16,9 kilogram sabu, jumlah ini mengindikasikan bahwa pengiriman bukan sekadar uji coba, melainkan bagian dari distribusi rutin dengan skala besar.
Artinya, ada permintaan pasar yang stabil, dan ada jaringan yang terus menyuplai tanpa henti.
Kepala BNNP Sumatera Selatan, Hisar Siallagan, mengakui bahwa pihaknya kini masih memburu dua sosok berinisial W dan R yang diduga sebagai pengendali utama.
Mereka inilah yang mengatur pergerakan barang, memberi instruksi, dan tetap berada di balik bayang-bayang.
Fenomena ini memperlihatkan satu kenyataan pahit: dalam bisnis narkotika, risiko tidak dibagi secara adil. Kurir menghadapi penangkapan, penyiksaan hukum, bahkan ancaman hukuman mati. Sementara pengendali memiliki jarak aman, menggunakan perantara, dan terus merekrut orang baru ketika satu kurir tertangkap.
Kasus di Palembang ini bukan hanya soal penegakan hukum, tapi juga soal kerentanan sosial. Selama masih ada celah ekonomi yang bisa dimanfaatkan, jaringan narkotika akan terus menemukan “pemain baru” untuk menggantikan yang tertangkap.
Barang bukti memang telah dimusnahkan, namun praktik eksploitasi ini belum selama sistem perekrutan kurir masih berjalan dan aktor utama belum tersentuh, maka cerita serupa hanya tinggal menunggu waktu untuk terulang, dengan wajah dan nama yang berbeda.
Di titik ini, perang melawan narkotika bukan hanya soal menangkap pelaku, tetapi memutus rantai eksploitasi yang menjadikan manusia sebagai alat dalam bisnis kematian.,(H Rizal).













