Martabak Kari Neni Meledak Tiap Ramadan, Warga Palembang Rela Antre Demi Kuah Kari “Pakai Hati”

MEDIABBC.co.id, PALEMBANG Ramadan di kawasan Pasar Lemabang, Jalan Laksamana Yos Sudarso, Kelurahan 3 Ilir, Kecamatan Ilir Timur II, Kota Palembang, selalu punya aroma khas: gurih rempah yang menyeruak dari lapak Martabak Kari Neni. Minggu,(23/02/2026).

Usaha musiman ini tak sekadar jualan takjil, ia sudah menjelma jadi destinasi kuliner yang diburu warga setiap bulan puasa.

Baru buka selepas Zuhur sekitar pukul 13.00 WIB, antrean mulai mengular jelang Asar. Puncaknya? Satu jam sebelum berbuka. Pembeli datang silih berganti, sebagian bahkan memilih menunggu demi memastikan tak kehabisan.

“Kalau awal puasa biasanya 5 sampai 7 kilo terigu. Tapi kalau sudah dekat Lebaran bisa sampai 10 sampai 15 kilo per hari karena ramai sekali,” ujar Neni, pemilik lapak, Minggu (22/2/2026).

Lonjakan produksi itu bukan angka kecil. Dari 5 kilogram terigu saja, Neni bisa menghasilkan sekitar 130 potong martabak kari. Artinya, saat mendekati Lebaran, ratusan hingga lebih dari 300 potong martabak bisa ludes dalam sehari.

Yang membuat martabak ini berbeda bukan hanya adonan dan isian dua telur ayam per porsi, melainkan kuah karinya yang kental, hangat, dan sarat rempah. Kuah inilah yang membuat pelanggan kembali lagi setiap tahun.

Awal Ramadan, Neni menghabiskan sekitar 10 kilogram kentang per hari untuk kuah. Menjelang Lebaran, kebutuhan melonjak hingga 20 kilogram bahkan lebih. Kuah disiapkan dalam beberapa termos besar untuk melayani pembeli yang makan langsung di pasar maupun dibungkus.

“Kita buat setiap hari, tidak nimbun bahan. Jadi semuanya fresh,” tegasnya.

Ia menolak menyimpan sisa bahan demi menjaga rasa dan kualitas. Semua diolah harian, dari adonan hingga kuah. Tidak ada kompromi soal kesegaran.

Di tengah harga bahan pokok yang fluktuatif, martabak kari ini tetap dibanderol Rp14 ribu per porsi dengan dua telur ayam. Pelanggan bisa menambah telur sesuai selera. Ada pula menu spesial dengan isian daging cincang kornet, mulai Rp20 ribu per porsi.

Harga terjangkau dengan porsi mengenyangkan menjadi kombinasi yang sulit ditolak, terutama bagi warga yang berburu takjil di Pasar Lemabang.

Menariknya, selama Ramadan Neni memilih fokus penuh pada martabak kari dan tidak menyediakan martabak sayur. Alasannya tegas: prosesnya lebih rumit dan ia ingin menjaga konsistensi menu andalan.

Di balik lonjakan produksi dan antrean panjang, Neni memegang satu prinsip sederhana.

“Resepnya harus pakai hati dan cinta. Insyaallah kalau masak pakai hati rasanya enak,” ucapnya.

Kalimat itu mungkin terdengar klise, tapi bagi pelanggan setianya, rasa kuah kari yang kaya rempah dan tekstur martabak yang lembut di dalam, renyah di luar, adalah bukti nyata.

Setiap Ramadan, lapak sederhana ini membuktikan bahwa kekuatan kuliner tradisional bukan pada kemasan mewah, melainkan konsistensi rasa, harga bersahabat, dan kehangatan pelayanan.

Bagi warga Palembang, berbuka tanpa martabak kari Neni terasa kurang lengkap.

Dan bagi pemburu kuliner Ramadan, ini adalah salah satu titik yang wajib disinggahi sebelum azan Magrib berkumandang.(H Rizal).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *