MEDIABBC.co.id – MERAUKE – Yayasan Merah Pusaka Strategik Indonesia (MPSI) memperkuat pendampingan bagi petani adat di Kampung Wanam, Distrik Ilwayab, Kabupaten Merauke, Papua Selatan.
Pada Jumat (23/10/2026), Tim MPSI memberikan pelatihan dan pendampingan lanjutan kepada Kelompok Tani Sami (4) dan Wonggele (3). Program ini fokus pada peningkatan keterampilan praktis, penguatan kemandirian pangan keluarga, dan pengembangan ekonomi produktif berbasis potensi lokal.

Ketua Tim Riset MPSI, Annas Fitrah Akbar, menegaskan pengembangan pertanian di Wanam tidak bisa berhenti pada pelatihan semata.
“Pertanian di Wanam punya potensi besar sebagai penopang ketahanan pangan dan ekonomi keluarga. Masyarakat tidak cukup hanya mendapat pelatihan. Mereka butuh pendampingan berkelanjutan agar keterampilan yang diperoleh bisa diterapkan dan memberi manfaat nyata,” ujar Annas.
Menurutnya, keberhasilan pemberdayaan harus diukur dari kemampuan kelompok tani mengelola usaha secara mandiri, bukan hanya dari terlaksananya pelatihan. Program juga harus disesuaikan dengan kondisi lokal, kemampuan petani, dan ketersediaan sarana produksi.
Senada, Anggota Tim Pemberdayaan Masyarakat MPSI, Dadan Ramlan, mengatakan pendampingan lapangan penting agar pengetahuan tidak berhenti pada teori.
“Petani butuh pendampingan yang dekat dengan kondisi mereka. Lewat praktik lapangan, mereka belajar mengenali kebutuhan usaha tani dan membangun kerja sama kelompok. Ini penting agar mereka lebih percaya diri,” kata Dadan.
Ia menambahkan, penguatan kelembagaan, pembagian tanggung jawab, dan konsistensi kegiatan menjadi kunci agar kelompok tani bisa menjadi wadah belajar bersama.
MPSI menilai keberlanjutan program di Wanam membutuhkan sinergi lintas pihak. Selain pendampingan lembaga, diperlukan dukungan pemerintah kampung, pemerintah daerah, dan instansi terkait.
Dukungan tersebut meliputi pembinaan teknis, penyediaan sarana dan alat pertanian sesuai kebutuhan, akses pengetahuan dan teknologi budidaya, hingga pembukaan jalur pemasaran hasil panen.
“Pendampingan harus berjalan seiring dengan dukungan yang memungkinkan masyarakat mengembangkan hasil belajarnya. Pemerintah perlu melihat kebutuhan petani secara konkret, mulai dari sarana produksi hingga akses pasar,” jelas Annas.
Ia berharap penguatan Kelompok Sami dan Wonggele dapat menjadi fondasi pertanian produktif di Wanam. Di tengah masifnya pembangunan di kawasan tersebut, masyarakat adat perlu mendapat ruang untuk meningkatkan keterampilan dan mengelola potensi wilayahnya sendiri.
(Kelana-03)

=========================================












