News  

Replanting Jadi Kunci, Sumsel Bidik Lonjakan Produksi Sawit hingga 7 Juta Ton

MEDIABBC.co.id, Palembang Ambisi meningkatkan produksi kelapa sawit nasional kembali ditegaskan dari Sumatera Selatan. Dalam Forum VI yang digelar Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Sumsel di Palembang, isu percepatan peremajaan sawit rakyat (replanting) mencuat sebagai solusi utama untuk mendongkrak produktivitas yang selama ini stagnan.

Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru secara terbuka menyoroti persoalan klasik yang dihadapi petani: lamanya masa tunggu setelah replanting. Selama ini, petani harus menunggu hingga empat tahun sebelum tanaman kembali menghasilkan, sebuah periode yang dinilai memberatkan secara ekonomi.

Namun, ia mengungkapkan adanya perkembangan baru di sektor budidaya sawit. Dengan pendekatan dan teknologi terbaru, tanaman disebut bisa mulai berbuah dalam waktu sekitar dua tahun.

“Ini peluang besar. Kalau bisa dipercepat menjadi 24 bulan, maka program replanting tidak lagi menakutkan bagi petani,” tegasnya.

Sumatera Selatan sendiri memegang peran strategis dalam industri sawit nasional. Sekitar 9–10 persen wilayahnya merupakan perkebunan kelapa sawit, dengan total luas mencapai 1,3 juta hektare dan produksi crude palm oil (CPO) sekitar 4 juta ton per tahun.

Meski demikian, angka produktivitas dinilai masih jauh dari optimal.

Ketua GAPKI Sumsel, Alex Sugiarto, menyebutkan bahwa dengan replanting yang berjalan efektif, produksi sawit daerah berpotensi melonjak hingga dua kali lipat.

“Kalau program ini bisa dipercepat dan hambatan teknis diselesaikan, kita optimistis produksi bisa tembus 6 sampai 7 juta ton,” ujarnya.

Namun, optimisme tersebut tidak datang tanpa tantangan. Pelaku industri saat ini dihadapkan pada tekanan biaya yang terus meningkat. Harga pupuk naik hampir 30 persen, sementara biaya distribusi juga melonjak akibat kondisi global, termasuk konflik geopolitik yang memengaruhi rantai pasok.

Di sisi lain, kenaikan harga sawit di pasar justru belum memberikan dampak signifikan terhadap margin keuntungan perusahaan.

“Harga naik, tapi biaya juga ikut naik. Jadi secara bisnis, keuntungannya relatif tidak berubah,” kata Alex.

Forum yang dihadiri ratusan peserta dari kalangan pengusaha, akademisi, hingga pemangku kebijakan ini menjadi ruang konsolidasi penting bagi sektor sawit. Selain membahas efisiensi produksi, forum juga menekankan pentingnya tata kelola berkelanjutan yang sejalan dengan regulasi pemerintah.

Di tengah tekanan biaya dan dinamika global, satu hal menjadi jelas: masa depan sawit Sumatera Selatan akan sangat ditentukan oleh keberhasilan mempercepat replanting. Tanpa itu, target peningkatan produksi hanya akan menjadi wacana.( H Rizal).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *