Mediabbc.co.id , Jakarta — Keberlanjutan pembangunan di Papua membutuhkan suasana sosial yang kondusif. Perdamaian dan harmonisasi dinilai menjadi fondasi penting agar pemerintah dapat menjalankan program pembangunan sekaligus masyarakat bisa menjalankan aktivitas sosial dan ekonomi dengan aman.
Pandangan tersebut disampaikan Dosen Komunikasi Politik Universitas Esa Unggul, Syurya Muhammad Nur, menanggapi tulisan Socrates Yoman mengenai Papua.
Syurya menilai berbagai persoalan yang terjadi di Papua tetap dapat dikritisi. Namun, kritik menurutnya perlu disampaikan berdasarkan data yang dapat dipertanggungjawabkan dan diarahkan pada upaya mencari penyelesaian.
“Kalaupun memang ada temuan yang dianggap oleh dia sebagai kejanggalan dalam pembangunan Papua, harusnya dia menarasikan dengan baik dan solutif, bukannya malah memperkeruh suasana masyarakat Papua yang harmonis,” ujar Syurya dalam keterangannya kepada wartawan, Selasa (8/9/2026).
Menurut dia, Papua tidak seharusnya hanya dilihat melalui persoalan konflik dan berbagai sisi negatif. Proses pembenahan serta perkembangan positif yang berlangsung di daerah tersebut juga perlu mendapat ruang dalam pemberitaan maupun tulisan yang dikonsumsi masyarakat.
Syurya mengingatkan bahwa narasi yang berulang kali menggambarkan Papua secara negatif dapat memengaruhi persepsi publik. Terlebih, tulisan mengenai Papua dapat dibaca oleh masyarakat luas, termasuk warga Papua sendiri.
“Melihat Papua jangan melihat dari sisi buruk saja, lihat sisi baiknya. Papua sedang berbenah menjadi lebih baik. Namun dengan adanya narasi-narasi negatif, maka khalayak akan menyimpulkan negatif juga,” katanya.
Ia menekankan pentingnya tanggung jawab penulis dalam menyampaikan informasi. Setiap argumentasi, kata Syurya, semestinya ditopang data valid dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.
Ia juga mendorong agar pembahasan mengenai Papua dapat memberikan gambaran yang utuh, bukan hanya menonjolkan satu sisi persoalan.
“Sebagai seorang penulis haruslah berdasarkan data-data valid yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah,” tuturnya.
Dalam perspektif komunikasi politik, Syurya menjelaskan bahwa pesan yang disampaikan melalui media dapat membentuk persepsi khalayak. Ia mengaitkannya dengan model jarum hipodermik dalam teori propaganda politik, yang menggambarkan pesan media sebagai sesuatu yang dapat memengaruhi penerima secara langsung.
Ia mengkhawatirkan narasi yang terlalu negatif justru dapat memperbesar prasangka, memperlebar perbedaan, hingga memunculkan sentimen terhadap pemerintah.
“Sebagai seorang akademisi komunikasi, saya menyayangkan tulisan Socrates tersebut. Komunikasi politik yang dituangkan dalam tulisan bukunya justru memperkeruh dan merusak persatuan dan kesatuan serta perdamaian yang telah dibangun oleh saudara-saudara saya di Papua,” ujarnya.
Karena itu, Syurya berharap komunikasi publik tentang Papua diarahkan untuk membuka ruang dialog, memperkuat persatuan, dan mencari solusi atas persoalan yang masih ada.
“Kunci dalam membangun Papua adalah perdamaian dan harmonisasi yang telah dibangun sejak lama,” tegasnya.
Ia menambahkan, karya yang membahas Papua idealnya turut memperhitungkan dampak sosial dari pesan yang disampaikan kepada masyarakat.
Jurnalis : Kelana003

=========================================












