MEDIABBC.co.id – JAKARTA — Pensiun dari dunia militer tidak selalu identik dengan kehidupan serba mewah atau jabatan baru. Prinsip inilah yang dipegang teguh oleh Brigjen TNI (Purn) Amrizar. Alih-alih mengejar kemapanan materi setelah purna tugas, ia memilih menjalani kehidupan bersahaja dengan menekuni musik, mengelola siniar (podcast) Pojok Tentara, serta sesekali pulang ke Makassar, Sulawesi Selatan, untuk mengurus kebun dan sawah milik sang istri.

Bagi Amrizar, kebahagiaan setelah puluhan tahun mengabdi di lingkungan TNI tidak diukur dari tumpukan harta atau tingginya jabatan, melainkan kebebasan menjalani hidup sesuai passion serta tetap produktif.
“Hidup itu pilihan. Saya memilih hidup apa adanya. Yang penting rezeki membawa berkah bagi keluarga. Keadaan saya memang seperti ini, tidak ada yang perlu direkayasa,” ujar Amrizar saat berbincang dengan awak media di kediamannya di kawasan Karawaci, Tangerang.
Ia secara terbuka mengakui bahwa sejumlah koleganya hidup jauh lebih mapan secara ekonomi setelah pensiun. Namun, ia menyadari latar belakang keluarganya yang bukan dari kalangan berada serta ketiadaan keahlian berbisnis membuatnya memilih jalur yang berbeda.
“Saya bukan anak orang kaya dan juga tidak lihai berbisnis. Jadi, setelah pensiun, ya menjalani kehidupan seperti sekarang. Dinikmati dan disyukuri saja,” tuturnya.
Hasilkan Tujuh Album dalam Dua Tahun
Di balik kesederhanaan tersebut, Amrizar justru menemukan ruang luas untuk mengeksplorasi kreativitasnya. Dunia musik yang belum sempat ia geluti secara maksimal saat masih aktif berdinas kini menjelma menjadi aktivitas utamanya.
Hasilnya pun, produktivitasnya patut diacungi jempol. Dalam kurun waktu sekitar dua tahun sejak memasuki masa pensiun, ia telah menelurkan tujuh album dengan beragam genre, termasuk warna musik blues yang menjadi salah satu pilihannya.
Selain aktif di dunia seni, pria berdarah Minang dan ayah empat anak ini juga memegang amanah sebagai Ketua Dewan Pembina Forum Wartawan Hiburan (FORWAN) Indonesia. Menurutnya, masa purna tugas memberikan keleluasaan penuh untuk menyuarakan gagasan, termasuk menyampaikan kritik sosial lewat lirik lagu.
“Ketika masih aktif berdinas, ruang untuk bermusik tentu tidak sebebas sekarang. Setelah pensiun, saya lebih leluasa menuangkan pemikiran ke dalam syair lagu, termasuk mengangkat persoalan sosial dan politik yang sedang terjadi,” jelasnya.
Sentil Fenomena Pamer Kekayaan Lewat Musik
Salah satu karya Amrizar yang sarat akan kritik sosial tecermin dalam singlenya yang berjudul “Jangan Tipu Dirimu”. Melalui lagu ini, ia secara tajam menyentil fenomena masyarakat yang gemar membangun citra palsu demi terlihat kaya dan berkuasa.
Ia menyoroti budaya pamer kemewahan (flexing) hingga menghalalkan segala cara demi mendapatkan pengakuan sosial.
“Banyak orang munafik di sekitar kita. Mereka sebenarnya tidak berdaya secara ekonomi,tetapi berusaha tampil seolah-olah kaya dan berkuasa. Bahkan, ada yang menghalalkan segala cara demi memperoleh harta dan kedudukan,” tegasnya.
Menikmati Hidup Tanpa Beban Jabatan
Di luar aktivitas bermusik, kesibukan harian Amrizar diisi dengan memandu siniar Pojok Tentara—sebuah wadah baginya untuk terus berbagi wawasan seputar dunia militer. Sesekali, ia juga menyempatkan diri terbang ke Makassar untuk membantu mengurus lahan pertanian sang istri.
Bagi Amrizar, pensiun bukanlah akhir dari segalanya, melainkan momentum emas untuk mendedikasikan waktu pada hal-hal yang dicintai. Ia enggan membandingkan jalan hidupnya dengan para purnawirawan jenderal lain yang bergelimang harta.
Bagi sosoknya, kesehatan, keharmonisan keluarga, kesempatan terus berkarya, serta ketenangan batin adalah anugerah terbesar yang patut disyukuri. Amrizar sukses membuktikan bahwa ukuran keberhasilan seorang purnawirawan bukanlah seberapa banyak kemewahan yang dikumpulkan, melainkan seberapa besar karya yang ia tinggalkan untuk sesama.
Pewarta: Kelana Peterson
Editor: Azuzet

=========================================
========================================












