MEDIABBC.co.id,. Rencana akuisisi Sriwijaya FC oleh pengusaha asal Sumatera Selatan, Selamat Raharjo Gumay SH, menemui jalan buntu. Presiden Sriwijaya FC sekaligus Presiden Lahat FC itu akhirnya memutuskan tidak melanjutkan negosiasi dengan PT Digi Sport Asia selaku pemegang saham mayoritas Laskar Wong Kito.
Selamat Raharjo Gumay yang akrab disapa Bang Gumay mengungkapkan, salah satu alasan utama batalnya kesepakatan adalah besarnya kewajiban finansial Sriwijaya FC yang harus diselesaikan calon investor.
Menurutnya, sejak awal ia telah mendapat informasi mengenai sejumlah kewajiban klub, termasuk pembayaran kepada Asosiasi Pesepakbola Profesional Indonesia (APPI) sebesar Rp160 juta. Dari jumlah tersebut, ia mengaku telah membantu membayar Rp50 juta.
Selain itu, terdapat sanksi larangan pendaftaran pemain atau banned FIFA yang awalnya diinformasikan sebesar Rp810 juta.
Namun, ketika hendak diselesaikan, nominal kewajiban tersebut justru bertambah hingga mencapai Rp2,7 miliar. Belum lagi muncul potensi kewajiban baru sebesar Rp1,3 miliar dari perkara yang sedang disidangkan.
Dengan demikian, total kewajiban yang harus ditanggung diperkirakan mencapai Rp4,1 miliar.
“Artinya, yang harus dibayar Rp4,1 miliar. Nah, sedangkan pihak Digi Sport kalau mau akuisisi minta Rp4 miliar. Di sini kalau kita lihat sudah tidak relevan lagi,” ungkap Selamat Raharjo Gumai, Jumat (6/11/2026).
Selain persoalan finansial, Bang Gumay juga menyoroti proses negosiasi yang dinilainya tidak menunjukkan keseriusan dari pihak PT Digi Sport Asia.
la mengaku kecewa karena saat datang ke Jakarta untuk membahas pengambilalihan klub, dirinya berharap bisa bertemu langsung dengan Alexander Rusli selaku pemilik saham mayoritas sekaligus membicarakan keputusan melalui Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS).
“Ini bicara klub besar dan akan mengeluarkan uang besar. Kita pikir akan ketemu Alex Ruslinya, Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) mengambil keputusan apa. Seperti mau bicara bisnis kacang goreng di warung kopi. Ini tidak relevan menurut kami,” katanya.
Bang Gumay kemudian membeberkan bahwa dirinya sempat mengajukan draf kesepakatan kepada PT Digi Sport Asia. Namun, draf balasan yang diterimanya justru menempatkan Digi Sport Asia tetap sebagai pemilik klub, sementara dirinya hanya ditawarkan posisi Wakil Presiden.
Padahal, ia menginginkan pengambilalihan secara menyeluruh agar memiliki kewenangan dan tanggung jawab penuh dalam menyelamatkan Sriwijaya FC.
“Di draf itu saya diserahi selaku penanggung jawab kompetisi. Sementara kita sudah main Presiden, presidenan. Yang kita sayangkan seperti itu. Harusnya Digi kalau sudah tidak mampu lagi, sudahlah, lepaskanlah total. Tanpa minta itu ini lagi. Cuma semuanya ini untuk sekarang tidak mungkin lagi,” tegas Bang Gumay.
la menilai, kesepakatan pengambilalihan klub tidak cukup hanya berdasarkan surat yang ditandatangani Anggoro Prajesta selaku Direktur Olahraga PT SOM.
Menurutnya, keputusan strategis mengenai kepemilikan saham harus dilakukan oleh pemegang saham melalui RUPS, sehingga memiliki dasar hukum yang jelas.
“Terus terang kalau tanda tangan Pak Anggoro itu tidak laku bagi saya sebagai orang hukum. Mau 10 materai ditandatangani Pak Anggoro tidak bisa memperkuat hak saya di sana nanti. Ini ditandatangani bahwa Anggoro semua,” jelasnya.
Bang Gumay menegaskan, dirinya menginginkan PT Digi Sport Asia benar-benar melepas kepemilikan Sriwijaya FC, bukan sekadar memberikan kewenangan pengelolaan dengan sejumlah persyaratan tambahan.
“Maksud saya lakukanlah RUPS. Saya inginnya Digi itu benar-benar melepas. Yang saya tangkap Digi ini melepas secara sukarela. Ini ujuk-ujuk mengeluarkan surat yang akan ditandatangani oleh Anggoro, pakailah uang Anda. Nanti diganti, atau diberi saham,” bebernya.
“Keputusannya tidak deal. Kita tidak mau, karena ini bicara klub besar dan uang besar. Seperti tidak ada keseriusan. Kalau serius memang sambutlah orangnya. Bukan saya gila hormat,” katanya.
(Redaksi)

=========================================
========================================












