=========================================
News, Pendidikan  

MEDIABBC.co.id, PALEMBANG — Polemik kewenangan badan penyelenggara Universitas PGRI Palembang (UPGRI) memasuki babak yang semakin serius. Di tengah sengketa kelembagaan yang belum tuntas, mahasiswa dan alumni kini berhadapan dengan satu persoalan paling krusial: siapa yang sebenarnya berwenang menjamin sah atau tidaknya dokumen akademik mereka? Pertanyaan itu mencuat dalam aksi damai mahasiswa dan pihak terkait di lingkungan Universitas PGRI Palembang, Senin (31/8/2026). Aksi tersebut tidak sekadar mempersoalkan pergantian atau pemberhentian pejabat kampus. Persoalan yang dipertaruhkan jauh lebih besar, yakni kepastian status akademik mahasiswa, keabsahan ijazah, dokumen kelulusan, hingga konsekuensi hukum jika di kemudian hari terjadi perubahan atau pembatalan terhadap legalitas badan penyelenggara universitas. Ketegangan semakin terbuka setelah YPLP PT PGRI Sumatera Selatan meminta pihak UPGRI menandatangani nota kesepakatan mengenai pertanggungjawaban atas seluruh risiko hukum yang mungkin muncul dari polemik pengalihan kewenangan badan penyelenggara. Namun, permintaan tersebut disebut tidak mendapat persetujuan dari pihak UPGRI melalui kuasa hukumnya. Dengan demikian, tidak ada kesepakatan yang berhasil dicapai dalam aksi tersebut. Mahasiswa Diminta Percaya, Tetapi Siapa yang Bertanggung Jawab? YPLP PT PGRI Sumsel pada prinsipnya meminta pihak yang saat ini mengelola universitas memberikan jaminan tertulis. Jaminan itu berkaitan dengan kemungkinan munculnya konsekuensi hukum dari pengalihan kewenangan badan penyelenggara Universitas PGRI Palembang dari YPLP PT-PGRI Sumatera Selatan kepada Perkumpulan PGRI/BPH pada 2022. YPLP meminta pihak pengelola menyatakan kesediaan bertanggung jawab secara hukum, moral, dan finansial apabila pengalihan kewenangan tersebut nantinya dinyatakan cacat hukum berdasarkan putusan pengadilan. Tidak berhenti […]

Tidak Ada Postingan Lagi.

Tidak ada lagi halaman untuk dimuat.