MEDIABBC.co.id, KOTA DEPOK,– Satuan Pendidikan Nonformal-Sanggar Kegiatan Belajar (SPNF SKB) Kota Depok sangat ramah terhadap anak-anak dari kalangan marginal atau rentan sosial.
Penyelenggara Pendidikan Kesetaraan (Paket A/B/C) ini, kerap memberikan kelonggaran persyaratan administrasi agar mereka bisa mendapatkan hak pendidikannya.
Di wilayah Jatisampurna Kota Bekasi banyak anak jalanan, pemulung anak, dan pengamen anak, tidak memiliki NIK, Akta Kelahiran, atau Kartu Keluarga. Padahal dokumen tersebut merupakan syarat utama dan wajib saat mendaftar masuk sekolah.
“Kami sangat terbuka dan membantu memberikan solusi untuk anak-anak yang terkendala dokumen, terutama anak jalanan, pemulung anak, pengamen dan anak lainnya yang mau sekolah,” ujar Muchlis Abdillah, S.Pd, M.M., Kepala Satuan Pendidikan Nonformal-Sanggar Kegiatan Belajar (SPNF SKB) Kota Depok.
Hal itu dikemukakan saat beliau menerima kunjungan Eddie Karsito, Ketua Umum Yayasan Humaniora Rumah Kemanusiaan, di SPNF SKB Harjamukti Cimanggis Kota Depok Jawa Barat, Rabu (03/06/2026).
Turut hadir dalam pertemuan tersebut antara lain, Sunaryo, M.Pd (SPNF SKB Koordinator Wilayah Cimanggis), Dwi Novariyanthi, S.AP dan Bima Dharna Putra (administrasi dan tenaga pendidik).
Akta Kelahiran Syarat Mutlak Pendaftaran Siswa Baru
Akta Kelahiran, kata Muchlis, diperlukan untuk proses verifikasi identitas, syarat masuk pendaftaran penerimaan siswa baru (PPDB), serta penginputan Nomor Induk Siswa Nasional (NISN) di Data Pokok Pendidikan (Dapodik).
“Tanpa akta lahir berisiko menghambat proses verifikasi data, menghalangi penerbitan NISN) di sistem Dapodik, dan mempersulit pencetakan ijazah saat kelulusan. Data pribadi di ijazah disesuaikan dengan akta lahir,” tegasnya.
Tahun Ajaran Baru 2026, Yayasan Humaniora Rumah Kemanusiaan telah mendaftarkan 27 anak binaannya masuk sekolah. Meliputi jenjang pendidikan TK, TPA, SD, SMP, hingga pendidikan kesetaraan Paket A.
Eddie Karsito menjelaskan, untuk calon siswa pendidikan kesetaraan Paket A telah didaftarkan di SPNF SKB Harjamukti Cimanggis Kota Depok. Lokasinya lebih dekat dengan wilayah Kecamatan Jatisampurna Kota Bekasi.
“SPNF SKB Kota Bekasi tempatnya jauh di daerah Marga Mulya. 35 kilometer dari Jatisampurna, kurang lebih 1 jam perjalanan. Makanya anak-anak kami daftarkan di SPNF SKB Kota Depok lebih dekat,” terang Eddie Karsito.
Muchlis Abdillah, menyambut baik upaya Yayasan Humaniora Rumah Kemanusiaan mendorong anak-anak usia sekolah agar tetap sekolah. Sebagian dari anak-anak jalanan ini berprofesi sebagai pengamen, dan pemulung anak.
“Suatu upaya kolektif dan strategis untuk memastikan anak-anak tidak putus sekolah. Mereka bisa mendapatkan hak pendidikan untuk bekal masa depan yang lebih baik melalui sistem pendidikan formal dan non-formal,” ujar Muchlis.
Koordinasi dengan Dinas Terkait Antar Wilayah
Muchlis berjanji, pihaknya akan melakukan koordinasi dengan dinas terkait antar wilayah (Kota Depok dan Kota Bekasi) agar anak-anak yang telah mendaftar sekolah dapat dibantu diterbitkan NIK, dan Akta Kelahirannya.
Pihaknya akan berkoordinasi lintas sektoral, antara Dinas Pendidikan, Dinas Dukcapil, dan pihak kewilayahan agar dapat dipastikan hak pendidikan anak terpenuhi.
“Penerbitan NIK dan Akta Kelahiran yang cepat memungkinkan siswa terdaftar di Dapodik,” tegasnya.
Memutus Rantai Kemiskinan
Eddie Karsito berharap, upaya Yayasan Humaniora Rumah Kemanusiaan menyekolahkan anak-anak pemulung ini dapat memutus rantai kemiskinan.
Anak adalah subjek hukum dan harus dilindungi. Selain itu anak juga harus dijaga, dan dibimbing untuk mencapai kesejahteraannya.
“Meningkatkan taraf hidup, dan memberi kesempatan bagi mereka meraih masa depan lebih baik,” tegasnya.
Yayasan Humaniora Rumah Kemanusiaan saat ini membina 273 orang rentan sosial, terdiri dari pemulung, pengamen, pedagang asongan, janda lanjut usia, dan tunas wisma.
Lembaga sosial ini juga mendidik 99 anak terlantar, meliputi anak-anak jalanan, pemulung anak, pengamen anak, sebagian dari mereka yatim piatu.
Mereka mengais rezeki mencari rongsok di kawasan perbatasan di empat wilayah, di Jatisampurna Kota Bekasi, Pondok Rangon Jakarta Timur, Harjamukti Cimanggis Kota Depok, dan di Gunung Putri, Cileungsi Kabupaten Bogor.
Sebagian dari mereka menempati shelter yang difasilitasi Yayasan Humaniora Rumah Kemanusiaan, antara lain di area pemakaman Tarikolot Jatisampurna, dan di jalan Nilam II No.126 Jatiraden Jatisampurna Kota Bekasi.
“Saat ini ada 38 pemulung, pengamen dan keluarganya yang sedang kami urus dibuatkan KTP dan KK, sekaligus mengurus Akta Kelahiran anak-anak mereka. Akta lahir ini urgen untuk persyaratan mereka masuk sekolah tahun ini,” ungkap Eddie./*
Jurnalis : Kelana003

=========================================












