MEDIABBC.co.id, PALEMBANG — SMK Negeri 2 Palembang memilih tidak membalas kekerasan dengan kekerasan. Di tengah isu yang berembus soal rencana aksi balasan setelah sejumlah siswanya diserang, pihak sekolah justru mengunci sikap: tidak ada tawuran, tidak ada pengerahan massa, dan tidak ada aksi main hakim sendiri.
Sekolah menyerahkan sepenuhnya perkara tersebut kepada aparat penegak hukum dan meminta polisi membongkar kasus penyerangan hingga tuntas.
Kepala SMKN 2 Palembang, H. Suparman, S.Pd., M.Si., mengatakan koordinasi dengan Polrestabes Palembang dan Polda Sumatera Selatan telah dilakukan. Bahkan, aparat kepolisian telah mendatangi sekolah untuk menindaklanjuti kasus tersebut.
“Kami sudah berkoordinasi dengan Polrestabes Palembang dan Polda Sumsel. Kemarin pihak Polrestabes dan Polda Sumsel juga datang ke SMKN 2 Palembang,” kata Suparman.
Menurut Suparman, siswa yang menjadi korban tidak mengetahui persoalan yang disebut-sebut menjadi pemicu penyerangan. Ia bahkan menegaskan tidak ada konflik sebelumnya antara siswa SMKN 2 Palembang dengan sekolah lain.
“Anak-anak kami yang diserang ini tidak tahu apa-apa. Kami tidak ada masalah,” ujarnya.
Karena itu, sekolah meminta publik tidak memperkeruh keadaan dengan informasi yang belum terverifikasi.
Suparman secara khusus membantah kabar yang menyebut siswa SMKN 2 Palembang tengah menyiapkan aksi balasan. Ia menegaskan tidak ada instruksi maupun rencana dari pihak sekolah untuk melakukan pembalasan.
“Hoaks yang beredar bahwa siswa SMKN 2 Palembang akan melakukan balas dendam, itu tidak ada. Anak-anak kami cinta damai,” tegasnya.
Polisi Diminta Jangan Berhenti di Pemeriksaan
Sikap menahan diri tersebut bukan berarti sekolah menganggap persoalan selesai. Sebaliknya, pihak sekolah meminta proses hukum berjalan serius dan memberikan kepastian terhadap kasus penyerangan tersebut.
Korban telah membuat laporan ke Polrestabes Palembang. Sejumlah anak yang diduga terlibat dalam aksi penyerangan juga telah dipanggil untuk menjalani pemeriksaan.
“Kami sudah mempunyai data dan kami ingin memastikan persoalan ini ditangani dengan baik. Anak-anak kami yang menjadi korban sudah melapor ke Polrestabes Palembang. Kami tinggal menunggu tindakan tegas dari kepolisian terhadap para pelaku,” kata Suparman.
Bagi sekolah, penindakan bukan bentuk balas dendam. Langkah hukum justru diperlukan untuk menghentikan pola kekerasan antarpelajar yang berpotensi terus berulang.
“Pelaku penyerangan terhadap siswa kami dicatat dan ditindak sesuai aturan, sehingga kejadian seperti ini tidak terjadi lagi,” ujarnya.
Keamanan Sekolah Diperketat
SMKN 2 Palembang kini memperkuat pengamanan untuk memastikan kegiatan belajar mengajar tetap berjalan. Kehadiran aparat kepolisian di lingkungan sekolah juga menjadi bagian dari upaya menjaga situasi tetap kondusif.
Personel Polda Sumsel dan Polrestabes Palembang bahkan turut hadir dalam pelaksanaan upacara peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di lingkungan sekolah.
Suparman menegaskan penyerangan terjadi di luar lingkungan sekolah. Karena itu, siswa diminta tidak berkeliaran setelah kegiatan belajar selesai dan segera kembali ke rumah.
“Kalau sudah pulang sekolah, ya pulanglah ke rumah. Kami ingin anak-anak kami aman. SMKN 2 Palembang itu rukun dan damai di dalam sekolah,” katanya.
Orang tua siswa juga diminta tidak panik. Sekolah mengklaim terus melakukan pengawasan sekaligus memberikan pemahaman agar siswa tidak mudah terseret provokasi.
Tawuran Jadi Garis Merah
Di sisi lain, sekolah memastikan sikap keras juga berlaku bagi siswanya sendiri. SMKN 2 Palembang tidak akan mentoleransi siswa yang membawa senjata tajam atau terlibat tawuran.
Suparman mengatakan sekolah telah memiliki aturan tegas. Siswa yang terbukti membawa senjata tajam atau terlibat tawuran dapat dikembalikan kepada orang tua.
“Kalau ada anak SMKN 2 yang membawa senjata tajam dan terlibat tawuran, kami sudah berkomitmen untuk mengembalikannya kepada orang tua,” jelasnya.
Komitmen tersebut, kata dia, juga telah dibahas bersama Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMK swasta. Sekolah-sekolah sepakat memberikan konsekuensi tegas terhadap siswa yang terbukti terlibat tawuran.
“Kami sudah sepakat dengan MKKS SMK swasta. Kalau ada siswa yang terlibat tawuran, akan dikembalikan kepada orang tua dan tidak diberikan rekomendasi SKCK,” katanya.
Sekolah tidak ingin kasus kekerasan antarpelajar mengorbankan masa depan siswa. Menurut Suparman, peserta didik seharusnya sibuk mengejar prestasi, bukan terlibat dalam bentrokan jalanan.
Ia menyebut SMKN 2 Palembang memiliki banyak siswa berprestasi, termasuk yang telah mencapai tingkat nasional. Lebih dari 200 siswa juga disebut memperoleh kesempatan melalui jalur undangan ke Universitas Sriwijaya dan Politeknik Negeri Sriwijaya.
“Anak-anak kami sedang mengejar prestasi. Mereka punya masa depan. Jangan sampai masa depan mereka rusak karena tawuran atau aksi kekerasan,” ujarnya.
Tak Ada Ruang untuk Aksi Balasan
Sekolah kini memilih satu jalur: hukum.
Tidak ada ruang bagi aksi balasan yang hanya akan memperbesar masalah dan menyeret lebih banyak pelajar ke dalam konflik.
Suparman menegaskan SMKN 2 Palembang tidak ingin membangun permusuhan dengan sekolah mana pun. Namun, ia meminta penyerangan terhadap siswanya tidak dianggap sebagai persoalan sepele.
“Semua anak adalah anak bangsa. Jangan ada balas dendam. Kami dari SMKN 2 Palembang tidak ada balas dendam. Kami serahkan persoalan ini kepada kepolisian dan berharap pelaku ditindak tegas sesuai aturan,” pungkasnya.(H Rizal).

=========================================












