=========================================

Guru Tak Bisa Digantikan Teknologi, PGRI Sumsel Dorong Pembelajaran Makin Inovatif

MEDIABBC.co.id, PALEMBANG — Digitalisasi pendidikan terus berkembang, tetapi Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan menegaskan satu hal: teknologi hanyalah alat. Peran guru dalam membangun karakter, memberi keteladanan, sekaligus menghadirkan sentuhan kemanusiaan kepada siswa tetap tidak tergantikan.

Pesan tersebut mengemuka dalam Seminar Pendidikan bertajuk “Guru Inovatif, Kelas Inspiratif Mewujudkan Peningkatan Mutu Pendidikan” yang digelar Pengurus Daerah PGRI Sumsel bersama Dewan Pendidikan Provinsi Sumsel di SMAN 17 Palembang, Kamis (13/8/2026).

Seminar diikuti ratusan guru dan kepala sekolah SMA/SMK negeri se-Sumsel secara luring dan daring melalui Zoom.

Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Sumsel Mondyaboni, S.E., S.Kom., M.Si., M.Pd., melalui Kabid PKLK Dr. Utui Tatang Suntani, S.T., M.M., menegaskan bahwa kemajuan pendidikan tidak boleh diukur hanya dari seberapa jauh sekolah dan guru menguasai teknologi.

Menurut Utui, teknologi justru harus ditempatkan sebagai instrumen yang dikendalikan guru untuk memperkuat proses pembelajaran.

“Sentuhan yang bermakna, pembangunan karakter secara langsung, sentuhan kemanusiaan seorang guru kepada muridnya itu tidak bisa disampaikan oleh teknologi. Teknologi adalah alat, dan pengendali alat itu adalah bapak/ibu guru yang ada di kelas.”

Karena itu, guru dituntut tidak berhenti pada kemampuan menggunakan perangkat digital. Lebih penting dari itu adalah kemampuan membaca kebutuhan siswa dan menemukan cara baru agar materi pelajaran lebih mudah dipahami.

Utui menyebut guru inovatif sebagai sosok yang tidak cepat puas dengan pola pembelajaran yang ada.

“Guru yang berinovasi dengan baik adalah guru yang selalu mencari jalan, yang tidak puas, bagaimana bisa membuat suatu inovasi dalam pembelajaran supaya anak itu lebih mudah dalam belajar,” ujarnya.

Pemerintah Provinsi Sumsel melihat peningkatan mutu pendidikan sebagai sebuah mata rantai. Perubahan harus dimulai dari guru, kemudian bergerak ke ruang kelas hingga berdampak pada karakter dan kualitas peserta didik.

Guru yang inovatif, kata Utui, akan menciptakan kelas yang lebih hidup dan inspiratif. Kelas semacam itu bukan hanya tempat menyampaikan materi, tetapi ruang bagi siswa untuk berkembang, berpendapat, berkreasi, sekaligus merasa aman.

Kelas inspiratif, lanjut dia, harus bebas dari perundungan dan diskriminasi serta mampu mendorong siswa lebih percaya diri dalam mengembangkan potensinya.

“Dari kelas inspiratif ini akan menghasilkan anak-anak yang cerdas, berkarakter, berintegritas, dan mempunyai kreativitas yang nantinya akan membawa bangsa ini menjadi lebih baik lagi,” katanya.

Wakil Ketua I PGRI Sumsel Drs. H. Merki Bakri, MM mengatakan seminar tersebut merupakan salah satu langkah untuk mendorong peningkatan mutu pendidikan di Sumsel.

Menurutnya, peningkatan kualitas pendidikan tidak dapat dilepaskan dari kualitas guru sebagai pihak yang berhadapan langsung dengan siswa dalam proses pembelajaran.

“Intinya upaya-upaya yang harus kita lakukan terutama oleh guru dan sekolah untuk meningkatkan mutu pendidikan. Karena pendidikan itu yang berhadapan langsung tentunya guru,” kata Merki.

PGRI Sumsel, lanjutnya, ingin mendorong kompetensi guru agar pembelajaran ke depan semakin inovatif, menarik, dan menyenangkan bagi siswa.

Dengan metode pembelajaran yang lebih kreatif, siswa diharapkan tidak hanya menerima materi secara pasif, tetapi mampu belajar lebih mandiri, fokus, dan aktif mengembangkan kemampuan mereka.

Merki menegaskan, seminar tersebut bukan menjadi kegiatan satu kali, melainkan bagian dari rangkaian upaya yang akan terus dilakukan untuk memperkuat ekosistem pendidikan di Sumsel.

“Banyak langkah-langkah yang akan kita lakukan. Selain seminar, mungkin kita juga akan mengundang banyak sekolah, pengawas, karena ujung tombak itu unsur-unsur tersebut,” ujarnya.

Seminar menghadirkan sejumlah narasumber, di antaranya Prof. Dr. Fitri Oviyanti, M.Ag. dari UIN Raden Fatah, Dr. Ir. Alhanannasir, M.Si. dari Dewan Pendidikan Provinsi Sumsel, serta Dr. Hayatun Nufus, M.Pd. dari Universitas PGRI Palembang.

Melalui forum tersebut, PGRI Sumsel dan Disdik Sumsel berharap guru tidak sekadar mengikuti perubahan zaman, tetapi menjadi penggerak utama perubahan di ruang kelas.

Sebab, di tengah semakin canggihnya teknologi pendidikan, kualitas hubungan manusiawi antara guru dan siswa tetap menjadi fondasi yang menentukan arah pendidikan.(H Rizal).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *