=========================================
Bpjs  

Nyaris Akhiri Hidup, Arief Bertahan Berkat Pengobatan Rutin yang Dijamin JKN

MEDIABBC.co.id, PALEMBANG – Tangis Arief pecah di ruang praktik dokter sebuah puskesmas pada awal 2020. Mahasiswa semester pertama itu akhirnya menyerah pada pergulatan batin yang selama berbulan-bulan ia pendam seorang diri. Ia datang bukan karena sakit fisik, melainkan karena hampir setiap hari dihantui keinginan mengakhiri hidup.

“Saya bilang ke dokter kalau sudah tidak sanggup. Rasanya setiap hari sedih, kehilangan semangat, sampai muncul keinginan bunuh diri. Saat menceritakan semuanya, saya langsung menangis,” kenang Arief.

Sebelumnya, Arief sempat diliputi kekhawatiran karena mengira biaya konsultasi dan pengobatan kesehatan jiwa akan sangat mahal. Ia mencari berbagai informasi melalui internet hingga akhirnya mengetahui bahwa layanan kesehatan jiwa ditanggung Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).

Berbekal kartu JKN yang didaftarkan ayahnya sebagai peserta mandiri, Arief mendatangi fasilitas kesehatan tingkat pertama untuk berkonsultasi. Setelah dilakukan pemeriksaan, dokter langsung merujuknya ke rumah sakit karena kondisinya dinilai membutuhkan penanganan dokter spesialis jiwa.

Di poli jiwa, Arief kembali menceritakan seluruh gejala yang dialaminya. Saat itu, ia didiagnosis mengalami skizofrenia paranoid.

Namun perjalanan pemulihan Arief tidak berhenti pada satu diagnosis. Selama hampir enam tahun menjalani kontrol rutin, dokter terus mengevaluasi kondisinya seiring perkembangan terapi yang dijalani. Diagnosisnya kemudian berubah menjadi depresi dengan gejala psikotik hingga akhirnya menjadi gangguan bipolar afektif.

Meski harus menjalani pengobatan jangka panjang, Arief mengaku tidak pernah terbebani biaya pelayanan kesehatan karena seluruh konsultasi maupun pengobatannya dijamin JKN.

“Kalau dihitung sejak awal berobat sampai sekarang, saya tidak mengeluarkan biaya untuk konsultasi maupun pengobatan karena semuanya ditanggung JKN. Saya sering membayangkan, kalau tidak punya JKN mungkin biaya yang harus saya keluarkan sudah puluhan bahkan ratusan juta rupiah. Bagi saya, JKN benar-benar memberi kesempatan untuk terus menjalani pengobatan tanpa harus memikirkan biaya,” ujarnya.

Kini, Arief yang bekerja di perkebunan kelapa sawit juga merasakan kemudahan layanan digital melalui Aplikasi Mobile JKN. Menurutnya, proses berobat menjadi lebih praktis karena antrean dapat diambil secara daring sebelum datang ke rumah sakit.

“Sekarang saya cukup daftar antrean lewat Aplikasi Mobile JKN. Setelah sampai di rumah sakit tinggal check-in mandiri dan verifikasi data. Waktunya jauh lebih singkat sehingga berobat tidak lagi melelahkan,” katanya.

Pengalaman Arief menjadi bukti bahwa gangguan kesehatan jiwa bukanlah kondisi yang harus dihadapi sendirian. Penanganan sejak dini, didukung akses layanan yang mudah serta jaminan pembiayaan, membuka peluang yang lebih besar bagi penyintas untuk menjalani pemulihan dan kembali produktif.

Bagi Arief, keberanian mencari pertolongan enam tahun lalu merupakan keputusan terbaik dalam hidupnya. Hingga kini ia masih menjalani terapi secara rutin, sekaligus berharap semakin banyak masyarakat berani memeriksakan kondisi kesehatan mentalnya sebelum terlambat.

“Kalau merasa ada yang tidak beres dengan kondisi mental, jangan dipendam sendiri. Datanglah berobat. Semakin cepat ditangani, semakin besar peluang untuk membaik. Saya bersyukur waktu itu berani mencari pertolongan, dan JKN membuat saya bisa terus menjalani pengobatan sampai hari ini,” tuturnya.(H Rizal).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *