MEDIABBC.co.id – Jakarta – Peneliti Senior Merah Pusaka Stratejik Indonesia (MPSI), Hendrik Arwam, menegaskan bahwa masa depan Papua akan sangat ditentukan oleh keberhasilan membangun kualitas pendidikan generasi mudanya.
Menurutnya, pembangunan yang berkelanjutan tidak cukup hanya mengandalkan percepatan infrastruktur dan pertumbuhan ekonomi, tetapi harus dibangun di atas fondasi sumber daya manusia yang unggul.
“Pendidikan jadi investasi paling strategis bagi masa depan Papua. Kemajuan suatu daerah pada akhirnya ditentukan oleh kualitas manusianya. Karena itu, pembangunan generasi muda harus ditempatkan sebagai prioritas utama dalam setiap kebijakan pembangunan,” kata Hendrik, Senin (6/7).
Akademisi Universitas Papua (Unipa) imi juga menjelaskan, Papua memiliki bonus demografi dan potensi sumber daya alam yang besar.
“Namun, potensi tersebut hanya akan memberikan nilai tambah apabila diimbangi dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui pendidikan yang merata, adaptif, dan berorientasi pada penguatan kompetensi”, ujarnya.
Menurut Hendrik, sistem pendidikan di Papua perlu diarahkan untuk melahirkan generasi yang tidak hanya memiliki kemampuan akademik, tetapi juga karakter kebangsaan, keterampilan hidup (life skills), kemampuan berwirausaha, serta kecakapan memanfaatkan potensi lokal sebagai penggerak ekonomi masyarakat.
“Generasi muda Papua harus dipersiapkan menjadi pelaku pembangunan, bukan sekadar penonton di tanahnya sendiri. Pendidikan harus mampu membangun rasa percaya diri, melahirkan inovasi, dan membekali mereka dengan keterampilan yang relevan dengan kebutuhan daerah,” tandasnya.
Hendrik menilai kebijakan pendidikan di Papua juga perlu lebih kontekstual dengan memperhatikan karakteristik sosial, budaya, serta kondisi geografis setiap wilayah.
“Pendekatan tersebut dinilai akan membuat proses pembelajaran lebih efektif sekaligus memperkuat identitas budaya masyarakat Papua”, jelasnya.
Selain itu, ia mendorong agar Dana Otonomi Khusus (Otsus) semakin diarahkan pada program-program yang berdampak langsung terhadap peningkatan kualitas sumber daya manusia, seperti peningkatan mutu guru, perluasan akses beasiswa, pengembangan pendidikan vokasi, penguatan literasi digital, serta pembinaan keterampilan bagi generasi muda.
“Keberhasilan Otonomi Khusus semestinya diukur dari meningkatnya kualitas hidup masyarakat Papua. Salah satu indikator utamanya adalah lahirnya semakin banyak generasi muda yang berpendidikan, memiliki keterampilan, serta mampu menciptakan peluang ekonomi di daerahnya sendiri,” katanya.
Hendrik juga menyoroti pentingnya memperluas akses pendidikan bagi anak-anak yang tidak dapat menyelesaikan pendidikan formal. Menurutnya, penguatan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM), pendidikan kesetaraan, serta pelatihan vokasi merupakan langkah strategis agar tidak ada generasi muda yang kehilangan kesempatan untuk meningkatkan kualitas hidupnya.
“Negara harus memastikan setiap anak Papua memiliki kesempatan yang sama untuk belajar dan berkembang. Pendidikan harus hadir sebagai jalan keluar dari berbagai persoalan sosial sekaligus menjadi instrumen untuk mencetak generasi yang produktif, berkarakter, dan berdaya saing,” ucapnya.
Lebih lanjut, Hendrik menegaskan bahwa keberhasilan pembangunan pendidikan tidak dapat dibebankan hanya kepada pemerintah. Diperlukan kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, lembaga pendidikan, tokoh adat, tokoh agama, dunia usaha, dan masyarakat agar tercipta ekosistem pendidikan yang kuat dan berkelanjutan.
“Ketika seluruh pemangku kepentingan menempatkan pendidikan sebagai agenda bersama, Papua akan memiliki fondasi yang kokoh untuk melahirkan generasi emas yang mampu membawa daerahnya menuju kemajuan. Masa depan Papua pada akhirnya ditentukan oleh sejauh mana kita berhasil menyiapkan kualitas generasi mudanya mulai hari ini,” tutup Hendrik Arwam.
(Kelana0-3)

=========================================












