MEDIABBC.co.id – JAKARTA – Penguatan wawasan kebangsaan dinilai menjadi kunci utama menjaga keutuhan bangsa sekaligus memperkuat posisi Indonesia di tengah dinamika global yang kian kompleks dan kompetitif.
Anggota Pusat Pendidikan Wawasan Kebangsaan (PPWK) Provinsi DKI Jakarta, Dr. Rasminto, menegaskan bahwa tanpa fondasi ideologi yang kuat, Indonesia berisiko terjebak dalam polarisasi, disinformasi, hingga penetrasi paham yang bertentangan dengan nilai-nilai Pancasila.
Pernyataan tersebut disampaikan dalam kegiatan pemantapan wawasan kebangsaan yang digelar Sub Bakesbangpol Kota Administrasi Jakarta Timur di SMKN 24 Jakarta Timur, Kamis (30/7/2026).
Menurut Rasminto, derasnya arus digitalisasi dan perkembangan teknologi tidak hanya membawa peluang, tetapi juga ancaman serius terhadap persatuan bangsa.
“Wawasan kebangsaan tidak cukup dimaknai sebagai hafalan sejarah atau simbol negara. Ini adalah soal karakter, cara berpikir, dan komitmen nyata untuk menempatkan kepentingan bangsa di atas kepentingan kelompok,” tegasnya, Jumat (31/7/2026).
Ia menyoroti meningkatnya ancaman hoaks, ujaran kebencian, radikalisme, hingga budaya individualisme yang terus menggerus nilai kebersamaan di tengah masyarakat, khususnya di kalangan generasi muda.
Rasminto menilai, penguatan wawasan kebangsaan tidak bisa lagi bersifat seremonial. Dibutuhkan langkah konkret dan berkelanjutan yang melibatkan seluruh elemen, mulai dari pemerintah, dunia pendidikan, keluarga, hingga komunitas pemuda.
“Jika tidak diantisipasi serius, generasi muda bisa kehilangan arah kebangsaan di tengah derasnya arus informasi global,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa investasi terbesar bangsa saat ini bukan semata pada infrastruktur, melainkan pada pembangunan karakter sumber daya manusia.
“Pendidikan wawasan kebangsaan harus hadir dalam kehidupan nyata—di sekolah, lingkungan sosial, hingga ruang digital. Bukan sekadar materi upacara atau seminar,” katanya.
Lebih lanjut, Rasminto mendorong penguatan pendidikan karakter berbasis Pancasila dilakukan secara kontekstual melalui aktivitas yang menumbuhkan kolaborasi, kepedulian sosial, kepemimpinan, serta semangat pengabdian.
“Nasionalisme tidak lahir dari hafalan, tetapi dari pengalaman hidup—bagaimana kita menghargai perbedaan, bekerja sama, dan menyelesaikan persoalan bersama,” ungkapnya.
Sebagai bagian dari PPWK DKI Jakarta, ia juga mendesak agar penguatan wawasan kebangsaan masuk sebagai prioritas dalam kebijakan pembangunan sumber daya manusia nasional.
Menurutnya, Indonesia membutuhkan generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik dan unggul secara teknologi, tetapi juga berintegritas, beretika, serta memiliki semangat gotong royong dan kecintaan terhadap tanah air.
“Bonus demografi dan transformasi digital hanya akan menjadi kekuatan jika didukung SDM berkarakter. Tanpa itu, justru bisa menjadi ancaman. Di sinilah pentingnya wawasan kebangsaan sebagai fondasi menuju Indonesia yang maju, tangguh, dan berdaulat,” pungkasnya.
Jurnalis: kelana0-3
Editor: Azuzet

=========================================












